Dari Rp 3 Juta, Kini Raup Rp 15 Juta per Bulan: Kisah Agen BRILink di Cikarang

- Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50 WIB
Dari Rp 3 Juta, Kini Raup Rp 15 Juta per Bulan: Kisah Agen BRILink di Cikarang

Matahari sudah tenggelam saat pelanggan masih berdatangan ke konter BRILink milik Nono Sutisno di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Pria 43 tahun itu melayani warga yang sebagian besar pekerja di kawasan industri sekitar. Keramahan dan lokasi strategis membuat konternya tak pernah sepi.

Di balik kesuksesan itu, ada perjuangan panjang sejak 2018. Awalnya, Nono kerap mengantre lama saat hendak mengirim uang ke adiknya yang kuliah di luar daerah. Iklan layanan transaksi keuangan di televisi menginspirasinya untuk memiliki mesin EDC sendiri. Tanpa menunda, ia mendatangi kantor BRI untuk mendaftar sebagai agen BRILink.

"Awal saya gabung modal di rekening cuma Rp 3 juta. Terang-terangan cuma Rp 3 juta pas. Belum kepikiran ke depannya. Eh, makin ke sini transaksi makin banyak, modal di atas Rp 50 juta masih kurang," kata Nono.

Saat memulai, konternya masih menyatu dengan warung sembako di lokasi yang tak dekat jalan raya. Transaksi harian hanya 30 hingga 50, mayoritas dari tetangga dekat. Bulan kedua, ia diundang gathering BRI untuk pembentukan paguyuban agen BRILink Cikarang. Di sana, ia belajar cara meningkatkan transaksi.

"Saya pelajari, alhamdulillah di bulan kelima, keenam transaksinya naik. Di tahun pertama, sudah hampir 1.000 lebih, hampir 2.000 transaksi per bulan," imbuhnya.

Setelah transaksi meningkat, Nono memindahkan konter ke lokasi lebih strategis dengan menyewa kios Rp 15 juta per tahun. Ia sempat membuka cabang kedua, tapi hanya bertahan dua tahun karena penjaganya keponakannya beralih pekerjaan. "Saya belum mau cari karyawan, belum bisa mengecek," ujarnya.

Tantangan dan Adaptasi

Perkembangan teknologi yang memungkinkan transaksi lewat HP menjadi tantangan tersendiri. Jumlah agen BRILink di wilayahnya juga terus bertambah. Namun, Nono mengatakan transaksi di konternya tetap stabil di atas 1.000 per bulan. "Pelanggan yang lama masih banyak," tuturnya.

Dari transaksi tersebut, ia meraup keuntungan Rp 12 hingga Rp 15 juta per bulan. Perputaran uang di konternya mencapai Rp 2 miliar lebih sebulan. "Kalau BRILink itu perputaran balance. Misal ada transfer Rp 5 juta, tak lama ada yang tarik Rp 5 juta lagi," jelasnya.

Untuk menjaga kelancaran, Nono menyiapkan modal tunai sekitar Rp 50 juta plus saldo rekening lebih dari Rp 50 juta. Transaksi paling sering adalah tarik tunai, transfer, pembayaran angsuran, listrik, hingga top-up e-wallet. Mayoritas pelanggan adalah pekerja industri, sehingga transaksi meningkat saat gajian.

Dampak Ekonomi

Usaha BRILink yang awalnya sambilan kini menjadi sumber penghasilan utama. "Dampak ekonomi yang saya rasakan sangat membantu, juga buat masyarakat sekitar banyak yang terbantu," kata Nono. Warga tak perlu lagi ke bank dan antre lama untuk berbagai transaksi, termasuk mencairkan bantuan sosial seperti Kartu PIP dan KIP.

Keuntungan dari BRILink juga digunakan Nono untuk membiayai pendidikan anak, merenovasi rumah, dan membangun enam kamar kos yang disewakan Rp 500-600 ribu per bulan. "Alhamdulillah kosan saya isi terus. Walau baru keluar, langsung ada yang ngisi lagi," tuturnya.

Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BRI Cikarang, Dian Permana, mengatakan kehadiran BRILink memperluas akses layanan keuangan. "Yang tadinya nasabah harus antre ke bank, sekarang cukup ke agen. Agen BRILink juga sudah bisa melayani pembayaran pinjaman dan pembuatan rekening," ujarnya. Saat ini ada sekitar 650 agen BRILink di Cikarang yang tersebar di 12 unit BRI.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags