Sebanyak 22 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaan Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membukukan kinerja keuangan yang memuaskan hingga April 2026. Capaian ini menegaskan bahwa transformasi BUMN di bawah naungan Danantara berjalan semakin terukur dan berorientasi pada hasil nyata.
Kinerja positif tersebut tersebar di berbagai klaster, mulai dari perbankan, industri manufaktur, infrastruktur, hingga energi dan pertambangan. Berikut rincian laba bersih yang berhasil diraih masing-masing BUMN.
Klaster Perbankan
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat laba konsolidasi Rp21,2 triliun, tumbuh 15 persen secara tahunan dari Rp18,4 triliun pada April 2025. Kinerja ini didorong oleh strategi efisiensi biaya dana dan ekspansi kredit yang optimal.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan laba konsolidasi Rp21,3 triliun, naik sekitar 13 persen (yoy) dari Rp18,8 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh penyaluran kredit yang ekspansif, peningkatan dana pihak ketiga (DPK), serta efektivitas ekosistem digital.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat laba bersih Rp7,29 triliun, tumbuh 6,11 persen dari Rp6,87 triliun. Ekspansi kredit yang tumbuh 20,1 persen dan peningkatan pendapatan bunga sebesar 13,7 persen menjadi pendorong utama.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membukukan laba bersih konsolidasi Rp1,45 triliun, melonjak 43,84 persen secara tahunan dari Rp1,008 triliun. Kenaikan ini terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih dan penekanan biaya dana.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat laba bersih Rp2,80 triliun, tumbuh 17,79 persen (yoy) dari Rp2,38 triliun. Pertumbuhan DPK yang mencapai Rp382 triliun dan penyaluran pembiayaan Rp332 triliun menjadi penopang utama.
Klaster Industri Manufaktur
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) berhasil membalikkan kerugian menjadi laba bersih Rp635 miliar, dari sebelumnya rugi Rp981 miliar pada April 2025. Restrukturisasi dan dukungan modal dari Danantara Asset Management (DAM) menjadi kunci.
PT Len Industri (Persero) mencatat laba Rp108 miliar, berbalik dari rugi Rp160 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini juga berkat restrukturisasi dan capital support dari DAM.
PT Sucofindo (Persero) membukukan laba Rp151 miliar, tumbuh 49 persen secara tahunan. Konsolidasi dan pembenahan tata kelola di bawah BPI Danantara menjadi pendorong utama.
PT IDSurvey (Persero) mencatat laba bersih Rp265 miliar, naik 9,95 persen (yoy) dari Rp241 miliar. Pendapatan operasional perusahaan mencapai Rp2,19 triliun, tumbuh 8,2 persen.
PT Surveyor Indonesia membukukan laba bersih Rp78 miliar, naik sekitar 10 persen. Langkah restrukturisasi, transformasi bisnis, dan penguatan portofolio layanan baru seperti ESG Assurance mendorong pencapaian ini.
Klaster Infrastruktur
PT Hutama Karya (Persero) mencatat laba bersih Rp628 miliar, naik dari Rp448 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Disiplin pengendalian biaya dan penguatan segmen jalan tol menjadi faktor utama.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) membukukan laba bersih Rp69 miliar, melonjak 667 persen secara tahunan. Perbaikan kinerja operasional dan basis laba periode sebelumnya yang kecil mendorong lonjakan persentase tersebut.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) berhasil membalikkan rugi Rp66 miliar menjadi laba Rp106 miliar setelah transformasi bisnis yang dilakukan oleh DAM.
Klaster Industri Pangan dan Pupuk
PT Pupuk Indonesia (Persero) membukukan laba bersih Rp4,8 triliun, tumbuh 202 persen secara tahunan. Transformasi tata kelola, inovasi digital, dan efisiensi operasional menjadi pendorong utama.
PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) mencatat laba Rp465 miliar, berbalik dari rugi Rp12 miliar. Keberhasilan restrukturisasi dan dukungan permodalan dari BPI Danantara, serta perannya dalam Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, mendorong pemulihan ini.
Klaster Energi
PT Pertamina (Persero) mencatat laba konsolidasi Rp24,9 triliun, tumbuh 80 persen dari Rp13,9 triliun pada April 2025. Transformasi pengelolaan melalui BPI Danantara, termasuk konsolidasi bisnis hilir, mendorong peningkatan ini.
Klaster Pertambangan
Holding BUMN pertambangan MIND ID mencatat laba Rp14,1 triliun, naik 31 persen dari Rp10,8 triliun. Transformasi tata kelola di bawah BPI Danantara, peningkatan kinerja operasional, dan optimalisasi hilirisasi mineral menjadi pendorong utama.
Klaster Jasa Keuangan
PT Pegadaian (Persero) mencatat laba bersih Rp4,38 triliun, melonjak 87,2 persen dari Rp2,34 triliun. Pertumbuhan outstanding loan (OSL) gross, ekspansi layanan emas, dan penurunan rasio kredit bermasalah menjadi pendorong.
Klaster Logistik dan Hinterland
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatat pertumbuhan laba 169 persen menjadi Rp1,5 triliun secara tahunan. Transformasi bisnis, penguatan tata kelola, dan peningkatan efisiensi operasional menjadi penopang.
Klaster Industri Kesehatan
PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencatat laba Rp108 miliar, berbalik dari rugi Rp160 miliar setelah restrukturisasi dan capital support dari DAM. Efisiensi biaya operasional dan optimalisasi portofolio produk menjadi pendorong.
Klaster Pariwisata dan Pendukung
PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Injourney) mencatat laba bersih Rp300 miliar, naik 33 persen secara tahunan. Transformasi BUMN, restrukturisasi bisnis, dan peningkatan aktivitas pariwisata serta pergerakan penumpang pesawat menjadi faktor utama.
Holding BUMN Spesialis Transformasi dan Investasi
PT Danareksa (Persero) mencatat laba bersih Rp43 miliar, berbalik untung signifikan dari rugi Rp72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Restrukturisasi dan dukungan permodalan dari BPI Danantara mendorong pembalikan ini.
Artikel Terkait
Sopir Truk Kecelakaan Maut di Bekasi Diamankan Polisi, Rem Blong Jadi Penyebab
Truk Wing Boks Tabrak Sejumlah Motor di Bekasi, Diduga Rem Blong
Logo HUT ke-81 RI Resmi Dipilih, Karya Fajar Novario dari Padang Raih Suara Terbanyak
Jepang Hadapi Ujian Berat Brasil di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026