AS Resmi Tinggalkan WHO, Utang Rp2 Triliun dan Akses Data Kesehatan Masih Menggantung

- Jumat, 23 Januari 2026 | 15:00 WIB
AS Resmi Tinggalkan WHO, Utang Rp2 Triliun dan Akses Data Kesehatan Masih Menggantung

Setahun setelah Presiden Donald Trump mengumumkan niatnya, Amerika Serikat akhirnya benar-benar hengkang dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Keputusan monumental ini mengakhiri hubungan yang sudah berjalan hampir delapan dekade.

Proses resminya dimulai di hari pertama masa jabatan Trump di tahun 2025, lewat sebuah perintah eksekutif dan pemberitahuan ke badan PBB itu. Dan sesuai aturan yang berlaku, butuh waktu satu tahun penuh sebelum keputusan itu benar-benar berlaku.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut sejumlah alasan klasik. Penanganan pandemi COVID-19 yang dinilainya buruk jadi salah satu poin utama. Dia juga mengeluhkan soal "pembayaran yang tidak adil dan memberatkan" serta krisis kesehatan global lainnya.

"Hari ini, Amerika Serikat telah menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan membebaskan diri dari berbagai pembatasan yang ada,"

begitu bunyi pernyataan bersama yang dikeluarkan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr., Kamis lalu.

Masalah Utang yang Belum Kelar

Tapi, jalan keluarnya ternyata tak semulus yang dibayangkan. Masih ada sejumlah urusan yang menggantung, bahkan setelah keputusan final ini.

Yang paling mencolok adalah soal uang. WHO menyebut AS masih punya tunggakan iuran anggota lebih dari 130 juta dolar AS. Namun, besaran pastinya dan status pembayarannya masih jadi bahan perdebatan sengit antara Washington dan Jenewa. Saling lempar tanggung jawab, pokoknya.

Seorang juru bicara WHO bilang, negara-negara anggota rencananya bakal bahas kepergian AS ini dalam rapat dewan eksekutif bulan Februari nanti. Mencari solusi, atau mungkin sekadar meratapi kehilangan kontributor terbesarnya.

Di sisi lain, pejabat pemerintahan Trump sendiri mengakui ada beberapa isu yang belum beres. Salah satunya yang cukup krusial: akses AS terhadap data kesehatan global. Selama ini, data itu berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi ancaman pandemi baru. Kalau aksesnya terputus, kekhawatiran bakal makin besar.

Sepanjang tahun lalu, desakan dari pakar kesehatan global agar keputusan ini ditinjau ulang terus mengalir. Bahkan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, tak henti menekankan betapa vitalnya kerja sama internasional di tengah ancaman kesehatan yang makin kompleks.

Kekhawatiran yang Meningkat

Memang, sejak wacana ini mengemuka, banyak ahli yang sudah angkat suara. Mereka memperingatkan bahwa langkah AS ini bisa melemahkan posisi WHO dan juga keamanan kesehatan global secara keseluruhan.

Faktanya, AS selama ini adalah penyumbang dana terbesar bagi badan kesehatan PBB itu. Tugas WHO sendiri sangat luas: mengoordinasi kesiapsiagaan menghadapi wabah seperti mpox atau Ebola, memberi bantuan teknis ke negara miskin, mendistribusikan vaksin yang langka, sampai menetapkan pedoman penanganan ratusan penyakit, dari kanker sampai masalah kesehatan mental.

Tanpa dukungan penuh Washington, banyak yang pesimis.

"Saya berharap Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali keputusannya dan bergabung lagi dengan WHO," kata Tedros dalam sebuah konferensi pers awal bulan ini. Suaranya terdengar berat.

"Penarikan diri dari WHO merupakan kerugian bagi Amerika Serikat dan juga kerugian bagi seluruh dunia."

Kini, bola ada di pengadilan sejarah. Apakah langkah ini akan dilihat sebagai kemandirian atau justru isolasi yang berisiko? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar