Jepang Hadapi Ujian Berat Brasil di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

- Senin, 29 Juni 2026 | 14:45 WIB
Jepang Hadapi Ujian Berat Brasil di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Ambisi Jepang untuk menjuarai Piala Dunia 2026 langsung diuji berat. Setelah lolos sebagai runner-up Grup F, Samurai Biru harus berhadapan dengan Brasil di Houston Stadium pada Senin, 29 Juni 2026 pukul 24.00 WIB. Brasil, yang lima kali menjadi juara dunia, menjadi batu karang yang berpotensi menghentikan laju Jepang sebelum melangkah lebih jauh.

"Kami sungguh ingin menjuarai Piala Dunia ini (Piala Dunia 2026)," kata gelandang Daichi Kamada setelah Jepang menaklukkan Tunisia 4-0 dalam pertandingan kedua Grup F. Kamada bukan satu-satunya yang menginginkan hal itu. Seluruh pemain Jepang, termasuk pelatih Hajime Moriyasu, punya cita-cita yang sama.

Brasil juga tak kalah ambisius. Tim Samba sudah sangat ingin menghentikan penantian 24 tahun menjadi juara dunia, sampai-sampai melanggar tabu mereka sendiri dengan merekrut pelatih yang bukan orang Brasil. Carlo Ancelotti, yang tak pernah melatih timnas kecuali sebagai asisten pelatih ketika Italia runner-up Piala Dunia 1994, dianggap sebagai pelatih bertangan dingin dan bergaransi juara. Ia mengantar tim-tim yang ditanganinya meraih gelar juara di Italia bersama Juventus dan AC Milan, di Inggris bersama Chelsea, di Prancis bersama Paris Saint-Germain, serta di Spanyol bersama Real Madrid.

Filosofi sepak bola Ancelotti yang menekankan kemampuan beradaptasi, memberi ruang seluas mungkin bagi kreativitas pemain, dan tidak terpaku pada satu sistem bermain selaras dengan Jogo Bonito Brasil yang menjunjung permainan menyerang dan kreativitas yang mengalir bebas. Harmoni itu kian kuat karena setidaknya lima pemain di skuad Brasil pernah merasakan sentuhan tangan Ancelotti, termasuk Casemiro dan Vinicius Junior.

Bahaya Vinicius Junior

Seperti di Real Madrid ketika dilatih Ancelotti, Vinicius juga bersinar bersama Brasil edisi Ancelotti. Pemain sayap yang beroperasi di kolom kiri sistem serangan Brasil ini menjadi pemain Brasil yang paling menonjol. Dia bukan hanya telah mencetak empat gol di Piala Dunia 2026, tetapi juga menjadi pemain Brasil yang paling banyak menciptakan peluang, paling sering menerima umpan, dan paling aktif melakukan tekanan kepada lawan.

Vinicius akan menjadi predator untuk sistem tiga bek dan tiga penyerang 3-4-3 yang diadopsi Jepang selama ini. Dia akan menjadi mata ujian paling sulit yang harus dijawab trio bek tengah pimpinan Hiroki Ito. Vinicius pun bukan satu-satunya orang yang membuat Brasil amat berbahaya di lini depan. Masih ada Matheus Cunha, Neymar, dan Raphinha. Brasil mengerahkan sembilan pemain di lini depan, mungkin yang terbanyak dari 48 tim Piala Dunia 2026.

Urusan membuat peluang, Brasil termasuk paling tinggi di Piala Dunia 2026, dengan 40 peluang yang 18 di antaranya tepat sasaran. Bandingkan dengan Jepang, yang membuat 27 peluang dan 9 di antaranya on target. Namun, Ancelotti, yang selama menjadi pemain berperan sebagai gelandang bertahan bersama AS Roma dan AC Milan serta timnas Italia, juga mementingkan pertahanan. Dia memiliki dua stopper terbaik di dunia, Gabriel Magalhaes yang menjadi pilar sukses Arsenal menjuarai lagi Liga Inggris setelah 22 tahun menanti dan Marquinhos yang menjadi fondasi sukses Paris Saint Germain di Prancis sampai dua kali berturut-turut mengangkat trofi Liga Champions.

Duel sengit di semua lini

Bersama Danilo di kanan dan Douglas Santos di kiri, duet pertahanan Brasil itu akan membuat penyerang-penyerang Jepang, termasuk Ayase Ueda yang paling eksplosif, bakal menembus batu karang. Kalaupun mereka berhasil menghancurkan karang itu, masih ada kiper Alisson Becker, yang menjadi bagian integral untuk sukses Liverpool di Liga Inggris dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, Jepang yang tahan banting dan pantang menyerah tetap menjadi ujian besar untuk sistem bermain Brasil. Selama fase grup, Brasil memakai pola berbeda-beda, mulai dari menggunakan satu penyerang saat menghadapi Maroko, beralih ke dua penyerang ketika mengalahkan Haiti, hingga memainkan tiga penyerang saat mengakhiri perlawanan Skotlandia. Satu hal yang konstan dari tim Samba adalah lini belakangnya yang setia pada formasi empat bek.

Berbeda dari tim Samba, Samurai Biru tak pernah bermain dalam sistem di luar pola 3-4-3. Dalam konsep itu, Hiroki Ito menjadi bek tengah tak tergantikan, Ayase Ueda tak pernah menjadi pilihan kedua di lini depan, dan Keito Nakamura serta Daichi Kamada selalu menjadi opsi utama pelatih Hajime Moriyasu di tengah. Kamada yang menjadi pemain paling sering membuka posisi ideal untuk dikirimi umpan dan Nakamura yang paling banyak menerima umpan akan memimpin lini tengah untuk berduel dengan para pengisi sektor tengah Brasil yang dipimpin gelandang tengah kaya trofi dan pengalaman, Casemiro.

Dengan segala cerita yang mengiringi duel kedua tim di babak 32 besar ini, pertemuan Brasil dan Jepang menjanjikan sebuah pertandingan yang sarat daya tarik. Ini adalah laga dengan spektrum penuh, yang menjadi adu ambisi sekaligus duel sengit antar para pengisi ketiga lini dari dua tim yang memainkan sepak bola menyerang sampai ke tulang sumsum. Kemenangan dalam laga ini akan menjadi platform kuat untuk menapaki jalur kompetisi yang kian terjal. Di tengah rute itu, telah menanti juara dunia Argentina di perempat final, tentu saja jika kedua tim sama-sama mampu melewati dua rintangan pertama di fase gugur.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags