Menolak Klaim Kontroversial: Membantah Tudingan soal Pernikahan dan Sifat Ummiy Nabi Muhammad

- Senin, 29 Juni 2026 | 16:00 WIB
Menolak Klaim Kontroversial: Membantah Tudingan soal Pernikahan dan Sifat Ummiy Nabi Muhammad

Sejumlah komentar yang menolak fakta pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah RA di usia 9 tahun serta menyebut Nabi sebagai 'pedofil' dan 'buta huruf' mendapat bantahan dari Ustadz Muhammad Abduh Negara. Dalam analisisnya, ia menegaskan bahwa klaim-klaim tersebut tidak berdasar dan mengabaikan konteks sejarah serta ajaran Islam.

Ustadz Abduh Negara memulai dengan membantah penolakan terhadap usia Aisyah saat menikah. Ia merujuk pada hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim yang langsung disampaikan oleh Aisyah RA, bahwa ia dinikahi pada usia 6 tahun dan tinggal bersama Nabi pada usia 9 tahun. "Tak ada alasan memadai untuk menolak informasi dalam riwayat ini," ujarnya. Secara fiqih klasik, tidak ada batas usia minimal menikah, dan pernikahan dini adalah hal biasa pada masa itu, bahkan tidak pernah dicela oleh orang kafir atau munafik sekalipun.

Menanggapi tuduhan 'pedofil', ia menekankan bahwa istilah tersebut sarat dengan nilai dan pandangan hidup tertentu yang tidak relevan diterapkan pada Nabi. "Terlalu memaksakan alam pikirannya sendiri pada Nabi," katanya, seraya mengingatkan bahwa pernikahan Nabi dengan Aisyah memiliki tujuan dakwah dan kemaslahatan umat.

Selanjutnya, ia membantah klaim bahwa Nabi 'buta huruf' adalah sebuah kekurangan. Ia menjelaskan bahwa sifat ummiy (tidak bisa membaca dan menulis) sebelum diutus menjadi Rasul justru memiliki hikmah, yaitu memperkuat kemukjizatan Al-Qur'an. Pada masa itu, mayoritas bangsa Arab adalah ummiy, dan hal itu bukanlah aib. "Bangsa Arab adalah bangsa yang cerdas, terbukti dari kemampuan hafalan dan syair mereka," tegasnya. Nabi sendiri memiliki banyak keunggulan lain, seperti hafalan kuat, kemampuan berdagang, organisasi, dan strategi perang.

Terakhir, mengenai tuduhan 'bermuka masam' yang merujuk pada Surat 'Abasa, ia menjelaskan bahwa ayat tersebut justru menunjukkan keseriusan Nabi dalam berdakwah dan menjadi pelajaran tentang prioritas dakwah. Peristiwa itu juga menunjukkan sisi kemanusiaan Nabi, sehingga menjadi teladan yang realistis bagi umat. "Nabi yang bermuka masam mengajarkan bahwa beliau adalah manusia, bukan malaikat, sehingga meneladani beliau bukanlah hal mustahil," pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags