Nabi Muhammad SAW sebagai Teladan Utama: Perbandingan dengan Barat dan Relevansinya dalam Kehidupan

- Senin, 17 Agustus 2026 | 10:25 WIB
Nabi Muhammad SAW sebagai Teladan Utama: Perbandingan dengan Barat dan Relevansinya dalam Kehidupan

Dalam pandangan sebagian kalangan, perbedaan mendasar antara peradaban Barat dan Islam terletak pada keberadaan figur teladan. Umat Islam memiliki Nabi Muhammad SAW sebagai manusia sempurna yang menjadi panutan dalam berbagai aspek kehidupan. Sementara itu, masyarakat Barat dinilai tidak memiliki figur sebanding, sehingga muncullah tokoh-tokoh fiksi seperti Superman, Batman, atau Spiderman sebagai pengganti idola.

Ketiadaan panutan yang jelas ini, menurut penulis, membuat masyarakat Barat kehilangan pedoman hidup yang tetap. Akibatnya, fenomena pergaulan bebas, termasuk hubungan seksual di luar nikah sejak usia muda, serta perilaku LGBT, berkembang di sejumlah negara Barat. Penulis juga menyoroti banyaknya panti jompo sebagai indikasi menurunnya penghormatan anak terhadap orang tua yang lanjut usia.

Yang lebih mengkhawatirkan, menurut penulis, adalah maraknya perzinahan yang tampak baik dalam kehidupan nyata maupun dalam produksi film Barat. Hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan seolah-olah dianggap sesuatu yang wajar.

Mengapa hal ini terjadi? Penulis berpendapat bahwa Barat tidak memiliki ukuran perbuatan yang tetap. Manusia di sana mendasarkan tindakannya pada manfaat dan kepentingan pribadi, yang pada akhirnya bersumber dari hawa nafsu. Sesuatu yang dianggap menguntungkan akan diambil, sedangkan yang tidak bermanfaat akan ditinggalkan.

Kondisi ini, menurut penulis, tercermin pula dalam persoalan Palestina. Israel dan Amerika Serikat disebut bekerja sama dalam tindakan yang dianggap sebagai genosida di Gaza, dengan korban mencapai lebih dari 73 ribu orang. Namun, pihak-pihak tersebut tidak merasa bersalah. Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Trump dinilai hanya sebagai kedok untuk menutupi peran Amerika Serikat dalam membantu pembunuhan ribuan Muslim Palestina. Hingga kini, BoP hampir tidak berfungsi dan gagal menghentikan agresi Israel, yang telah menguasai lebih dari 60 persen wilayah Gaza.

Penulis menilai Israel terus membunuh karena tidak memiliki panduan hidup yang melarang pembunuhan sewenang-wenang. Kedengkian dan balas dendam, yang merupakan bagian dari hawa nafsu, menguasai diri sehingga pembunuhan massal tidak dianggap sebagai perbuatan buruk. Korban bukan hanya anggota militer seperti Hamas, tetapi juga perempuan, anak-anak, petugas medis, dan wartawan. Karena itu, penulis menggunakan istilah keras untuk menggambarkan Israel sebagai negara yang gemar membunuh.

Sebaliknya, umat Islam bersyukur memiliki idola dan teladan utama, yaitu Nabi Muhammad SAW. Keberadaan beliau memberikan panduan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Islam, perzinahan tidak seharusnya berkembang karena Al-Qur'an secara tegas melarangnya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 32: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." Selain itu, dalam surat An-Nur ayat 2, Allah memerintahkan hukuman dera bagi pezina laki-laki dan perempuan. Firman-Nya: "Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dera..." Ayat-ayat ini menegaskan larangan zina dalam Islam.

Al-Qur'an juga mengingatkan tentang dosa besar bagi mereka yang membunuh tanpa hak, sebagaimana dalam surat Al-Furqan ayat 68: "Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina..." Dengan demikian, umat Islam memiliki panduan yang jelas untuk menjauhi perbuatan keji.

Larangan LGBT dan Kewajiban Berbakti

Menurut penulis, dengan minimnya perzinahan, perilaku LGBT juga tidak seharusnya berkembang. Al-Qur'an secara tegas mengecam perbuatan kaum Nabi Luth. Dalam surat Al-A'raf ayat 80-81, Allah berfirman: "...Mengapa kamu melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? Sesungguhnya kamu benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan..." Ayat-ayat lain, seperti dalam surat Asy-Syu'ara' dan An-Naml, juga mengutuk perbuatan tersebut.

Selain itu, dalam masyarakat Islam, keberadaan panti jompo tidak seharusnya menjadi alasan anak untuk melepaskan tanggung jawab terhadap orang tua. Islam justru menyerukan agar anak senantiasa berbakti kepada orang tua hingga lanjut usia. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra' ayat 23-24: "...janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik..." Ayat ini menegaskan kewajiban berbakti dan merawat orang tua dengan penuh kasih sayang.

Perintah serupa juga terdapat dalam surat Luqman ayat 14 dan An-Nisa' ayat 36, yang memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Dengan demikian, Islam memberikan tuntunan yang jelas dalam hubungan keluarga.

Larangan Mengikuti Hawa Nafsu

Islam melarang manusia bertindak semata-mata karena hawa nafsu atau mengikuti keinginan yang merugikan orang lain. Al-Qur'an dalam surat Al-Jatsiyah ayat 23 menggambarkan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat. Firman-Nya: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya..." Ayat ini menunjukkan bahaya mengikuti hawa nafsu.

Allah juga berfirman dalam surat Shad ayat 26 kepada Nabi Dawud: "...janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah..." Demikian pula dalam surat Al-Ma'idah ayat 49, Allah memerintahkan untuk memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan-Nya dan tidak mengikuti keinginan mereka.

Selain itu, Islam melarang keras pembunuhan terhadap manusia secara sewenang-wenang. Dalam surat Al-Isra' ayat 33, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar..." Surat Al-Ma'idah ayat 32 bahkan menyamakan membunuh satu orang tanpa hak dengan membunuh seluruh manusia. Firman-Nya: "...barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia..." Ancaman keras juga terdapat dalam surat An-Nisa' ayat 93 bagi yang membunuh mukmin dengan sengaja.

Nabi Muhammad SAW dalam Pandangan Ilmuwan Barat

Kehebatan Nabi Muhammad SAW tidak hanya diakui oleh kalangan Islam, tetapi juga oleh sejumlah cendekiawan Barat. Goethe, penyair Jerman, pernah menyatakan, "Kalau Islam begitu, maka dengan demikian kami adalah kaum Muslimin..." Sementara itu, orientalis Jerman Dieterici mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang menghidupkan Eropa pada abad ke-10 Masehi berasal dari Islam. Bertly Sant Hiller, orientalis dari Dresden, menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara yang memperhatikan kehidupan bangsa dan keadilan.

Sastrawan Inggris George Bernard Shaw bahkan menulis buku berjudul Muhammad, meskipun penyebarannya dilarang oleh pemerintah Inggris. Sejarawan Amerika Michael H. Hart dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu, karena berhasil meraih keberhasilan luar biasa dalam bidang agama dan duniawi.

Namun, bagi umat Islam, dasar utama menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bukanlah pengakuan para orientalis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Surat Al-Ahzab ayat 21 menyatakan: "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." Allah juga berfirman dalam surat Ali 'Imran ayat 31: "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu...'" Selain itu, surat At-Taubah ayat 128-129 menggambarkan sifat Rasulullah yang penyantun dan penyayang, serta mengajarkan untuk bertawakal kepada Allah.

Dengan demikian, umat Islam memiliki pedoman hidup yang jelas melalui teladan Nabi Muhammad SAW, yang bersumber dari wahyu Allah, bukan hawa nafsu. Hal ini menjadi pembeda fundamental dengan peradaban Barat yang cenderung mengedepankan kepentingan pribadi.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags