Pemerintah Filipina memangkas target pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 3,5 hingga 4,5 persen, turun dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 5 hingga 6 persen. Menteri Perencanaan Ekonomi Arsenio Balisacan mengungkapkan bahwa perlambatan ini dipicu oleh krisis energi dan skandal korupsi yang menghambat belanja negara.
Dalam wawancara dengan One News, Balisacan menjelaskan bahwa pemangkasan target merupakan refleksi dari mandeknya realisasi belanja pemerintah setelah terungkapnya dugaan korupsi pada proyek penanggulangan banjir. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan inflasi domestik akibat kenaikan harga minyak mentah global.
Pada kuartal I-2026, ekonomi Filipina hanya tumbuh 2,8 persen secara tahunan, jauh di bawah estimasi pasar. Bank Sentral Filipina telah merespons tekanan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan untuk kedua kalinya secara berturut-turut pekan lalu. Menurut Balisacan, kebijakan moneter ketat itu diperlukan untuk memastikan inflasi tidak berkepanjangan.
Meskipun inflasi tahunan Filipina melandai ke 6,8 persen pada Mei, angka tersebut masih jauh di atas target bank sentral sebesar 3,0 persen. Panel antar-lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas target fiskal dan ekonomi jangka menengah telah menggelar pertemuan intensif untuk meninjau ulang target makro. Hasil tinjauan dan penyesuaian kebijakan fiskal dijadwalkan dirilis dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Ekonom Ingatkan Target Pertumbuhan 6 Persen Butuh Konsistensi dan Konsolidasi Fiskal
BI Proyeksi Ekonomi 2026 Tumbuh 4,9-5,7 Persen
Menkeu Purbaya: Penerimaan Pajak Tahun Depan Diprediksi Naik Seiring Pertumbuhan Ekonomi
Ekonom Ragukan Target Pertumbuhan 6 Persen, Ini Alasannya