Mentan Amran Perkenalkan Teknologi Padi PM-AAS, Klaim Produktivitas Tembus 12,4 Ton per Hektare

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:00 WIB
Mentan Amran Perkenalkan Teknologi Padi PM-AAS, Klaim Produktivitas Tembus 12,4 Ton per Hektare

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperkenalkan teknologi budidaya padi baru yang disebutnya mampu melipatgandakan produktivitas. Teknologi itu diberi nama PM-AAS, singkatan dari Pertanian Modern-Advanced Agricultural System. Perkenalan itu dilakukan langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto di sela-sela acara Penas XVII Tani dan Nelayan di Gorontalo pada 24 Juni 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran mengajak Presiden Prabowo meninjau areal pertanaman padi yang mulai menguning. Bulir-bulir padi tampak bernas dan diperkirakan siap dipanen dalam tiga pekan ke depan. Yang membuat teknologi ini menonjol, menurut klaim Kementerian Pertanian, adalah lonjakan produktivitas yang signifikan. Dari rerata nasional sekitar 5,5 ton per hektare, teknologi PM-AAS disebut mampu mendongkrak hasil hingga 12,4 ton per hektare. Presiden Prabowo sendiri menyebut teknologi ini sebagai sesuatu yang revolusioner.

Lantas, apa sebenarnya PM-AAS? Dalam keterangan resmi yang dirilis Kementerian Pertanian, PM-AAS merupakan model budidaya padi yang menggabungkan sejumlah pendekatan: benih unggul, pola tanam modern, pengelolaan air yang lebih efektif, mekanisasi, serta adaptasi teknologi budidaya dari berbagai negara. Menurut Mentan Amran, formulasi ini merupakan hasil penggabungan pengalaman dari Indonesia, China, dan Arkansas, Amerika Serikat. Hasilnya, produktivitas padi disebut bisa menembus angka yang jauh di atas rerata nasional.

Peninjauan Presiden terhadap teknologi itu berlangsung dalam rangkaian gelar teknologi pada PENAS XVII 2026 di Gorontalo. Momen ini menjadi sorotan karena menyiratkan potensi inovasi pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mempercepat transformasi cara bertani di tingkat petani. Presiden menilai kemajuan seperti PM-AAS sebagai modal kuat untuk membawa Indonesia menuju kekuatan pangan yang lebih mapan. Fokusnya tidak hanya pada kenaikan hasil panen, tetapi juga pada keberlanjutan sistem, kemampuan petani menyerap teknologi, dan penguatan fondasi produksi hingga level desa.

Bagi pemerintah, keberhasilan model seperti PM-AAS tidak cukup berhenti sebagai demonstrasi teknologi. Inovasi itu diarahkan untuk diperluas, diajarkan, dan dimasifkan agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas di berbagai sentra produksi padi nasional.

Mentan Amran menegaskan, lonjakan hasil panen melalui PM-AAS merupakan bagian dari strategi intensifikasi yang kini dijalankan bersamaan dengan ekstensifikasi lahan. Pemerintah tidak hanya menambah areal tanam, tetapi juga berupaya menaikkan produktivitas pada lahan yang sudah ada melalui teknologi dan budidaya yang lebih modern. Strategi itu dijalankan melalui beberapa jalur sekaligus, mulai dari pemakaian benih unggul, perbaikan pola tanam, dukungan irigasi, mekanisasi pertanian, hingga peningkatan indeks pertanaman.

Amran juga mengaitkan produktivitas tersebut dengan dukungan sarana produksi yang lebih baik, termasuk ketersediaan pupuk yang lebih mudah diakses petani. Menurut dia, kombinasi teknologi budidaya modern dan dukungan input pertanian menjadi faktor penting dalam mendorong hasil panen yang lebih tinggi. Jika capaian di atas 10 ton per hektare bisa dijaga secara konsisten, dampaknya tidak hanya terasa pada angka produksi semata. Peningkatan itu juga berpotensi memperkuat stok pangan nasional, memperbesar ruang serap hasil panen petani, dan memberi fondasi lebih kuat bagi target swasembada yang berkelanjutan.

Kemunculan PM-AAS pada PENAS 2026 dibaca bukan sekadar sebagai unjuk inovasi, melainkan sebagai sinyal arah kebijakan pertanian Indonesia. Saat produktivitas bisa didorong jauh di atas rata-rata nasional, tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar bisa diadopsi lebih luas dan memberi manfaat nyata bagi petani.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags