Harga Minyak Bertahan Tinggi, Selat Hormuz Tetap Tertutup Picu Kekhawatiran Pasar

- Minggu, 15 Maret 2026 | 09:15 WIB
Harga Minyak Bertahan Tinggi, Selat Hormuz Tetap Tertutup Picu Kekhawatiran Pasar

Harga minyak mentah dunia masih bertahan di level tinggi pada penutupan perdagangan Jumat kemarin. Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan global, tetap tertutup rapat. Situasi ini memicu kekhawatiran yang tak kunjung reda di kalangan trader dan analis.

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei ditutup menguat 2,67 persen, tepatnya di angka USD103,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk April juga naik 3,11 persen, mengakhiri sesi di level USD98,71 per barel. Kalau kita lihat pergerakan sepekan terakhir, kenaikannya cukup signifikan. Sejak 6 Maret lalu, Brent sudah melonjak lebih dari 11 persen, dan WTI naik sekitar 8 persen.

Perdagangan Jumat sendiri sempat diwarnai gejolak. Awalnya, harga sempat melemah setelah beredar kabar bahwa sebuah kapal tanker India berhasil melintasi Selat Hormuz. Ternyata, laporan itu keliru. Kapal tersebut berangkat dari Oman dan sama sekali tidak mendekati selat itu. Begitu klarifikasi keluar, harga langsung berbalik naik dan bergerak positif menjelang siang hari.

Di tengah situasi mencekam ini, sejumlah langkah politik mulai diambil. Pemerintah Amerika Serikat, yang tahun ini menghadapi tahun pemilu, mengeluarkan lisensi khusus 30 hari. Lisensi ini memungkinkan negara-negara membeli minyak dan produk petroleum Rusia yang saat ini tertahan di tengah laut. Langkah ini jelas bertujuan menekan harga bahan bakar untuk konsumen domestik.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, kebijakan tersebut ditujukan untuk menstabilkan pasar energi global yang sedang terguncang hebat akibat perang.

“Minyak Rusia sebenarnya sudah menuju pembeli, jadi kebijakan ini tidak menambah pasokan baru ke pasar, tetapi mengurangi hambatan dalam perdagangan,” ujar Bjarne Schieldrop, Kepala Analis Komoditas di SEB.

Menurutnya, kekhawatiran pasar kini semakin dalam. “Ketakutan terbesar adalah jika terjadi kerusakan parah pada infrastruktur minyak, yang bisa menyebabkan kehilangan pasokan secara permanen,” tambah Schieldrop.

Utusan khusus Presiden Rusia, Kirill Dmitriev, memperkirakan kebijakan AS itu akan memengaruhi sekitar 100 juta barel minyak mentah Rusia. Jumlah itu setara dengan produksi minyak global hampir satu hari penuh.

Pengumuman soal minyak Rusia ini muncul tak lama setelah Departemen Energi AS menyatakan akan melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya (SPR). Aksi ini dikoordinasi dengan Badan Energi Internasional (IEA), yang sepakat melepas rekor 400 juta barel dari cadangan global. Namun, efeknya ternyata tidak bertahan lama.

Analis IG Tony Sycamore mencatat, kelegaan pasar yang sempat muncul akibat pelepasan cadangan itu dengan cepat sirna. Penyebabnya sederhana: risiko geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dengan cepat.

Pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, bersikukuh dengan posisinya. Iran akan terus berperang dan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap AS dan Israel. Bahkan, situasi keamanan di lapangan semakin panas. Dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak dilaporkan diserang oleh kapal Iran yang membawa bahan peledak, menurut pejabat keamanan Irak pada Kamis.

Seorang pejabat Irak yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada media pemerintah bahwa pelabuhan minyak negara itu kini menghentikan operasinya sepenuhnya.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis juga angkat bicara. Ia menyebut AS berpotensi mendapat keuntungan besar dari harga minyak yang melonjak ini. Meski begitu, ia menegaskan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir adalah prioritas yang jauh lebih penting.

Volatilitas yang tinggi ini tercermin dari pergerakan harga sehari sebelumnya. Pada Kamis, baik Brent maupun WTI sempat melonjak lebih dari 9 persen dan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022.

Melihat ke depan, proyeksi Goldman Sachs yang dirilis Jumat memperkirakan harga minyak Brent rata-rata akan bertahan di atas USD100 per barel sepanjang Maret. Untuk April, mereka memproyeksikan harga sekitar USD85 per barel. Semua ini seiring dengan volatilitas pasar akibat perang, kerusakan infrastruktur, dan gangguan di Selat Hormuz.

Analis senior LSEG, Emril Jamil, melihat Brent cenderung lebih kuat ketimbang WTI. Alasannya, Eropa lebih rentan terhadap risiko keamanan energi. Sementara AS relatif lebih terlindungi berkat produksi minyak domestiknya yang besar.

Ada indikasi kuat bahwa gangguan ini akan berlangsung lama. Menurut sejumlah sumber yang berbicara kepada Reuters, Iran telah menempatkan sekitar selusin ranjau laut di Selat Hormuz. Langkah ini jelas mempersulit, bahkan hampir mustahilkan, upaya membuka kembali jalur pelayaran strategis itu dalam waktu dekat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar