Harga minyak mentah dunia masih bertahan di level tinggi pada penutupan perdagangan Jumat kemarin. Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan global, tetap tertutup rapat. Situasi ini memicu kekhawatiran yang tak kunjung reda di kalangan trader dan analis.
Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei ditutup menguat 2,67 persen, tepatnya di angka USD103,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk April juga naik 3,11 persen, mengakhiri sesi di level USD98,71 per barel. Kalau kita lihat pergerakan sepekan terakhir, kenaikannya cukup signifikan. Sejak 6 Maret lalu, Brent sudah melonjak lebih dari 11 persen, dan WTI naik sekitar 8 persen.
Perdagangan Jumat sendiri sempat diwarnai gejolak. Awalnya, harga sempat melemah setelah beredar kabar bahwa sebuah kapal tanker India berhasil melintasi Selat Hormuz. Ternyata, laporan itu keliru. Kapal tersebut berangkat dari Oman dan sama sekali tidak mendekati selat itu. Begitu klarifikasi keluar, harga langsung berbalik naik dan bergerak positif menjelang siang hari.
Di tengah situasi mencekam ini, sejumlah langkah politik mulai diambil. Pemerintah Amerika Serikat, yang tahun ini menghadapi tahun pemilu, mengeluarkan lisensi khusus 30 hari. Lisensi ini memungkinkan negara-negara membeli minyak dan produk petroleum Rusia yang saat ini tertahan di tengah laut. Langkah ini jelas bertujuan menekan harga bahan bakar untuk konsumen domestik.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, kebijakan tersebut ditujukan untuk menstabilkan pasar energi global yang sedang terguncang hebat akibat perang.
“Minyak Rusia sebenarnya sudah menuju pembeli, jadi kebijakan ini tidak menambah pasokan baru ke pasar, tetapi mengurangi hambatan dalam perdagangan,” ujar Bjarne Schieldrop, Kepala Analis Komoditas di SEB.
Menurutnya, kekhawatiran pasar kini semakin dalam. “Ketakutan terbesar adalah jika terjadi kerusakan parah pada infrastruktur minyak, yang bisa menyebabkan kehilangan pasokan secara permanen,” tambah Schieldrop.
Utusan khusus Presiden Rusia, Kirill Dmitriev, memperkirakan kebijakan AS itu akan memengaruhi sekitar 100 juta barel minyak mentah Rusia. Jumlah itu setara dengan produksi minyak global hampir satu hari penuh.
Pengumuman soal minyak Rusia ini muncul tak lama setelah Departemen Energi AS menyatakan akan melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya (SPR). Aksi ini dikoordinasi dengan Badan Energi Internasional (IEA), yang sepakat melepas rekor 400 juta barel dari cadangan global. Namun, efeknya ternyata tidak bertahan lama.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,9 Juta per Gram
IHSG Anjlok 3,05% Jelang Lebaran, Tekanan Global dan Minyak Picu Aksi Jual
Analis Prediksi IHSG Masih Berpotensi Koreksi, Soroti Emiten Potensial
Jepang dan Korea Selatan Siaga Intervensi Pasar, Waspadai Pelemahan Yen dan Won