Samuel Sekuritas Pangkas Proyeksi Laba Perbankan 2026 Jadi 1,8 Persen Imbas Tekanan Rupiah dan Suku Bunga

- Minggu, 14 Juni 2026 | 15:30 WIB
Samuel Sekuritas Pangkas Proyeksi Laba Perbankan 2026 Jadi 1,8 Persen Imbas Tekanan Rupiah dan Suku Bunga

Samuel Sekuritas merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan laba sektor perbankan pada tahun 2026, seiring dengan tekanan yang terus membayangi nilai tukar rupiah dan tren kenaikan suku bunga acuan. Dalam riset terbarunya, lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan laba agregat bank hanya akan mencapai 1,8 persen secara tahunan, turun signifikan dari estimasi sebelumnya yang sebesar 4,6 persen.

Analis Samuel Sekuritas, Ahnaf Yassar Lilo, menilai lingkungan operasional perbankan telah memburuk secara nyata sejak kuartal pertama tahun ini. Salah satu indikator utamanya adalah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.178 per dolar Amerika Serikat pada 8 Juni 2026, atau terdepresiasi sekitar sembilan persen sejak awal tahun. Kondisi ini, menurut dia, dipicu oleh tekanan defisit kembar, yakni defisit anggaran dan defisit neraca pembayaran yang berlangsung bersamaan.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia mengambil langkah kontras dengan membalikkan arah kebijakan moneternya. Otoritas moneter menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali, terdiri dari 50 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026 dan tambahan 25 basis poin melalui keputusan di luar jadwal pada 9 Juni 2026. Alhasil, suku bunga acuan kini berada di level 5,50 persen.

Menurut Samuel Sekuritas, kombinasi antara suku bunga tinggi dan rupiah yang melemah akan menekan perbankan melalui tiga jalur utama. Pertama, biaya dana atau cost of fund berpotensi meningkat, terutama bagi bank yang masih bergantung pada deposito berjangka. Kedua, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) diperkirakan terus tertekan karena kenaikan bunga simpanan berlangsung lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit. Ketiga, risiko kualitas aset meningkat seiring naiknya biaya pinjaman di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah. Pelemahan rupiah juga berpotensi mendorong inflasi impor, memperkuat skenario suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih panjang.

"Di tengah tingginya biaya pendanaan, tekanan terhadap NIM, dan potensi kenaikan biaya pencadangan, kami menurunkan proyeksi pertumbuhan laba agregat bank menjadi 1,8 persen pada 2026," tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya, Jumat (12/6/2026).

Sementara itu, di tengah prospek yang semakin menantang, kinerja empat bank terbesar nasional masih menunjukkan ketahanan hingga empat bulan pertama tahun ini. Laba bersih agregat PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencapai Rp62,1 triliun, tumbuh delapan persen secara tahunan. Capaian tersebut setara dengan 37 persen dari proyeksi laba setahun penuh yang telah direvisi, lebih tinggi dibandingkan rata-rata realisasi empat bulan pertama dalam empat tahun terakhir yang berkisar di angka 30 persen.

Namun, tekanan terhadap margin bunga mulai terlihat. Pada periode Januari hingga April 2026, NIM gabungan keempat bank besar turun 18 basis poin menjadi 5,1 persen. Penurunan ini terjadi karena imbal hasil aset turun 46 basis poin, lebih besar dibandingkan penurunan biaya dana yang hanya mencapai 31 basis poin. Di sisi lain, pertumbuhan kredit masih cukup kuat, yakni 14 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga yang sebesar 13 persen. Kondisi ini mendorong rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) keempat bank naik menjadi 89 persen, tertinggi dalam 11 bulan terakhir.

Samuel Sekuritas mencatat kualitas aset hingga April 2026 masih relatif terjaga. Kinerja laba yang melampaui ekspektasi sebagian besar ditopang oleh biaya kredit atau credit cost yang lebih rendah dari perkiraan. Meski demikian, pertumbuhan laba diperkirakan melambat pada sisa tahun berjalan. Lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan laba bersih yang mencapai 7,5 persen pada empat bulan pertama akan melandai menjadi hanya 1,8 persen pada akhir tahun akibat tekanan NIM dan kenaikan biaya kredit.

Seiring revisi proyeksi laba tersebut, Samuel Sekuritas menurunkan rekomendasi sektor perbankan menjadi neutral. Kendati demikian, valuasi saham perbankan dinilai sudah cukup menarik karena sebagian besar saham bank dalam cakupan riset diperdagangkan mendekati atau bahkan di bawah level minus dua standar deviasi berdasarkan rasio price to book value (PBV).

Di antara saham perbankan, Samuel tetap menjadikan Bank Mandiri sebagai pilihan utama dengan target harga Rp6.000 per saham. Saham BMRI dinilai memiliki potensi kenaikan atau upside tertinggi sekitar 41 persen, didukung pertumbuhan laba dan laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) yang kuat, masing-masing sebesar 19 persen dan 14 persen secara tahunan hingga April 2026. Selain itu, pertumbuhan kredit BMRI mencapai 18 persen secara tahunan dan biaya kredit masih berada di bawah panduan manajemen, sehingga membuka peluang adanya kejutan positif pada kinerja mendatang. Basis pendanaan murah (CASA) yang besar juga dinilai memberikan keunggulan bagi BMRI dalam menghadapi tekanan biaya dana yang lebih tinggi.

Meski prospek jangka pendek masih dibayangi tantangan, Samuel Sekuritas menilai pemulihan nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, penurunan suku bunga, perbaikan NIM, serta pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dapat menjadi katalis positif bagi sektor perbankan ke depannya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar