Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Sentuh Level Tertinggi

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:50 WIB
Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Sentuh Level Tertinggi

Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Selasa (4/8/2026), dengan sempat menyentuh level 89,81 dolar AS per barel. Angka ini lebih tinggi 20,50 dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pergerakan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, meski mekanisme dasar pasar tetap ditentukan oleh keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Risiko geopolitik seperti perang, gangguan distribusi energi, hingga ancaman resesi global juga dapat menyebabkan harga minyak bergerak naik atau turun dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat pergerakan harga minyak dunia sulit diprediksi secara pasti.

Dampak terhadap Harga BBM

Harga minyak mentah merupakan komponen terbesar dalam pembentukan harga bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU). Namun, harga yang dibayar konsumen juga mencakup biaya pengolahan di kilang, distribusi, pajak, hingga margin keuntungan yang diambil stasiun pengisian bahan bakar.

Meski begitu, minyak mentah biasanya menyumbang lebih dari separuh harga BBM. Karena itu, ketika harga minyak dunia naik, harga BBM umumnya ikut meningkat. Sebaliknya, saat harga minyak turun, harga BBM sering kali turun lebih lambat. Fenomena ini dikenal sebagai 'rockets and feathers', yakni harga naik cepat seperti roket, tetapi turun perlahan seperti bulu yang jatuh.

Acuan Harga Minyak Dunia

Dalam perdagangan internasional terdapat dua acuan utama harga minyak, yakni Brent dan West Texas Intermediate (WTI). Brent merupakan acuan utama perdagangan minyak dunia karena menjadi patokan bagi sebagian besar transaksi minyak mentah global. Sementara itu, WTI lebih banyak digunakan sebagai acuan di Amerika Utara.

Bahkan, Badan Informasi Energi AS (EIA) kini menggunakan Brent sebagai referensi utama dalam proyeksi energi tahunannya.

Perjalanan Harga Minyak Dunia

Dalam beberapa dekade terakhir, harga minyak dunia mengalami fluktuasi yang sangat tajam akibat berbagai faktor. Pada awal 1970-an, harga minyak melonjak ketika negara-negara Timur Tengah memangkas ekspor dan memberlakukan embargo minyak terhadap AS, serta sejumlah negara lain saat Perang Yom Kippur.

Sebaliknya, harga turun pada pertengahan 1980-an karena melemahnya permintaan dan meningkatnya pasokan dari negara-negara produsen minyak di luar OPEC. Harga kembali melonjak pada 2008 seiring meningkatnya permintaan global, sebelum akhirnya anjlok akibat krisis keuangan dunia.

Sementara itu, selama pandemi Covid-19 pada 2020, permintaan minyak turun drastis sehingga harga minyak sempat jatuh hingga di bawah 20 dolar AS per barel. Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, kebijakan OPEC, resesi global, perubahan kebijakan energi, hingga keseimbangan pasokan dan permintaan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags