Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Rabu (12/8), di tengah kekhawatiran pasokan yang kembali mengemuka akibat serangan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah dan belum ada tanda-tanda penyelesaian konflik Iran. Namun, kenaikan tersebut tertahan setelah dua lembaga energi utama memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun depan.
Kontrak minyak Brent ditutup naik 7 sen menjadi USD 88,98 per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 7 sen ke level USD 83,27 per barel. Pasar masih dibayangi risiko gangguan pasokan dari jalur pelayaran strategis, terutama setelah seorang sumber senior Iran menyatakan tidak ada pembicaraan dengan AS untuk memperpanjang gencatan senjata. Teheran bahkan menegaskan kesepakatan itu tidak memiliki tanggal mulai sehingga tidak ada yang bisa diperpanjang.
"Penguatan harga minyak terjadi karena pasar semakin meragukan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat untuk mengurangi gangguan aliran minyak mentah dari kawasan tersebut atau mencegah konflik kembali meningkat," ujar Head of Business Development XS.com, Simon-Peter Massabni.
Kekhawatiran itu diperkuat oleh laporan serangan terhadap kapal di dua jalur pelayaran vital, yaitu Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, pada Selasa (11/8). Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz anjlok menjadi hanya delapan kapal pada hari yang sama, jauh di bawah kondisi normal sebelum perang yang mencapai 125-140 kapal per hari. Penurunan drastis ini berpotensi menghambat distribusi minyak dari negara-negara produsen utama di Timur Tengah.
OPEC dan IEA Pangkas Proyeksi Permintaan
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam laporan bulanannya memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi sekitar 580.000 barel per hari. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memperkirakan permintaan minyak dunia akan terkontraksi sekitar 1,6 juta barel per hari pada tahun ini. Meski demikian, IEA melihat pasokan minyak dunia juga akan berkurang sekitar 4,3 juta barel per hari, sehingga pasar berpotensi mengalami defisit sekitar 1,27 juta barel per hari pada 2026.
Manager Portofolio di Gabelli, Simon Wong, menilai penurunan proyeksi permintaan tersebut bukan hal yang mengejutkan. Menurutnya, sejumlah kilang, terutama di Asia, kesulitan mendapatkan minyak mentah karena pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu. Keterbatasan pasokan itu memaksa perusahaan kilang mengurangi aktivitas pengolahan.
"Pertanyaannya, setelah perang berakhir, seberapa banyak permintaan tersebut akan kembali? Saya rasa tidak semuanya akan kembali," kata Wong.
Tekanan tambahan datang dari data persediaan minyak mentah AS yang dirilis Energy Information Administration (EIA). Stok minyak mentah AS meningkat secara tak terduga pada pekan lalu, dengan kenaikan terbesar sejak Januari 2023. Peningkatan itu terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor minyak mentah AS, sementara impor melonjak tajam.
Artikel Terkait
OPEC Kembali Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Minyak 2026
Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Konflik Timur Tengah dan Proyeksi Permintaan yang Dipangkas
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Sebelum AS Penuhi Syarat
Trump Klaim Iran Bangkrut dan Tak Mampu Gaji Tentara, Inflasi Capai 300 Persen