Pemerintah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hingga Amerika Serikat memenuhi seluruh komitmennya dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu. Pernyataan tegas itu disampaikan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dalam sidang parlemen, Selasa (18/8/2026).
Ghalibaf, yang juga memimpin tim negosiasi Iran dalam pembicaraan dengan AS, menyatakan bahwa Teheran akan menggunakan jalur diplomasi dan militer untuk membuat Washington memahami konsekuensi dari tindakannya. "Saya tegaskan: selama AS belum memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman tersebut termasuk mencabut blokade, melepas aset yang dibekukan, mencabut sanksi minyak, mengakhiri ancaman dan operasi militer di semua lini, serta melaksanakan ketentuan lain yang telah disepakati selat itu tidak akan dibuka kembali," ujarnya.
Menurut Ghalibaf, Teheran mengedepankan apa yang ia sebut sebagai "kekuatan logika dan logika kekuatan" melalui koordinasi antara bidang diplomatik dan militer. Ia menambahkan bahwa periode yang ditetapkan dalam nota kesepahaman, termasuk pencabutan blokade AS dan gencatan senjata, telah membantu Iran meningkatkan ketahanan ekonomi serta memulihkan kemampuan pertahanannya.
"Republik Islam Iran siap untuk memberikan kekalahan yang jauh lebih telak kepada musuh, sebagai tanggapan yang sepadan dengan tindakan dan agresi mereka," tambah Ghalibaf.
Nota kesepahaman itu ditandatangani pada Juni lalu melalui mediasi Pakistan dan Qatar, yang mengakhiri permusuhan dan membuka jendela waktu 60 hari untuk negosiasi menuju kesepakatan akhir. Namun, sejak saat itu perundingan mengalami kebuntuan di tengah perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman serta pengaturan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi ekspor minyak dan gas dunia.
Artikel Terkait
Negosiasi AS-Iran Buntu, Trump Tegaskan Blokade Laut Tetap Berlaku
Trump Ancam Bombardir Oman Jika Halangi Kesepakatan dengan Iran soal Selat Hormuz
Harga Minyak Dunia Menguat Usai Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir
Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz, Iran Beri Peringatan Keras