Paradoks Panen Raya: Petani Bima Terpaksa Hengkang ke Jakarta

- Selasa, 30 Juni 2026 | 18:06 WIB
Paradoks Panen Raya: Petani Bima Terpaksa Hengkang ke Jakarta

Seorang petani bawang merah asal Bima, Nusa Tenggara Barat, yang bertani dari 2018 hingga 2023, menceritakan pengalaman pahitnya. Meski tanah Bima subur dan bawang merahnya berkualitas, setiap panen raya justru menjadi mimpi buruk karena harga anjlok drastis. Kini, ia memilih meninggalkan profesinya dan merantau ke Jakarta.

Pada hari biasa, bawang merah dihargai Rp25.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Namun saat panen raya tiba, harga jatuh ke Rp9.000–Rp15.000 per kilogram. "Saya paham hukum supply and demand, tapi di mana peran negara saat hukum pasar mencekik produsen pangan sendiri?" ujarnya.

Kekecewaan menumpuk selama lima tahun. Pada 2023, ia memutuskan berhenti. "Dengan berat hati, saya meninggalkan cangkul dan memilih kabur ke Jakarta," katanya. Ia mengaku lelah berjuang sendiri tanpa perlindungan sistemik.

Surat Terbuka untuk Pemerintah

Dari Jakarta, ia menitipkan pesan: petani butuh solusi konkret, bukan sekadar teori. Ia mendorong optimalisasi sistem resi gudang dan cold storage agar bawang bisa disimpan saat harga jatuh. Selain itu, penetapan harga eceran terendah (HET) yang tegas dan hilirisasi produk, seperti mengolah bawang mentah menjadi bawang goreng atau pasta, dinilai penting.

"Petani tidak butuh kasihan, kami butuh solusi konkret," tegasnya. Ia berharap pemerintah hadir melindungi petani saat panen raya.

Rencana Kembali ke Bima

Meski kini di Jakarta, ia mengaku jiwanya tetap seorang petani. "Kota beton ini mungkin memberikan pelarian sementara, tapi tidak bisa memberikan kepuasan batin seperti saat melihat pucuk bawang merah tumbuh subur di Bima," ungkapnya.

Ia berencana kembali ke Bima setelah mengumpulkan modal dan perspektif baru. "Saya berharap ketika kembali, panen raya berikutnya tidak lagi diwarnai harga anjlok, melainkan senyuman karena negara hadir," pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags