Pemerintah Percepat Belanja Negara di Kuartal I 2026 untuk Jaga Momentum Ekonomi di Tengah Tekanan Global

- Jumat, 15 Mei 2026 | 10:45 WIB
Pemerintah Percepat Belanja Negara di Kuartal I 2026 untuk Jaga Momentum Ekonomi di Tengah Tekanan Global

Lonjakan belanja pemerintah pada kuartal pertama tahun 2026 merupakan langkah yang sengaja dipercepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tekanan global yang kian terasa. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengungkapkan bahwa kebijakan fiskal ini menjadi andalan utama saat sektor eksternal belum menunjukkan perbaikan signifikan.

"Lonjakan belanja pemerintah di kuartal I ini memang sengaja didorong lebih awal. Pemerintah tampaknya membaca bahwa tekanan ekonomi global mulai terasa ke domestik. Ekspor belum kuat, investasi swasta masih tertahan, sementara rupiah juga sedang mengalami tekanan. Dalam situasi seperti itu, fiskal akhirnya dipakai untuk menjaga momentum ekonomi supaya tidak melambat terlalu dalam di awal tahun," ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026. Di balik angka tersebut, terdapat lonjakan belanja pemerintah sebesar 21,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Menurut Yusuf, lonjakan belanja negara itu ditopang oleh sejumlah faktor musiman dan program strategis. Momen Lebaran, pembayaran tunjangan hari raya (THR), penyaluran bantuan sosial, serta program makan bergizi gratis yang mulai berjalan lebih masif menjadi pendorong utama peningkatan belanja tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah tengah mengambil peran besar sebagai penyangga pertumbuhan ekonomi. Efek dari keputusan tersebut, lanjut Yusuf, sudah terasa pada konsumsi rumah tangga, sektor perdagangan, transportasi, hingga industri makanan dan minuman.

"Langkah ini cukup wajar dalam kondisi sekarang. Ketika sektor swasta belum terlalu kuat bergerak, pemerintah memang biasanya menjadi penyangga sementara. Kalau belanja negara tidak dipercepat di awal tahun, kemungkinan pertumbuhan ekonomi tidak akan setinggi itu," kata dia.

Namun, di sisi lain, Yusuf mengingatkan agar pemerintah tetap menjaga ruang fiskal tidak terlalu longgar. Pasalnya, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di awal tahun sudah menunjukkan beban yang cukup berat. Ia juga menilai bahwa efek stimulus dari THR dan momentum Lebaran bersifat sementara.

"Jadi, saya melihat kuartal I ini lebih seperti dorongan awal supaya ekonomi tetap bergerak di tengah tekanan global yang cukup berat. Tetapi, untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat sampai akhir tahun, yang lebih penting nanti adalah bagaimana pemerintah menjaga kepercayaan investor, stabilitas rupiah, dan kepastian kebijakan supaya sektor swasta mulai kembali ekspansif," ungkapnya.

Tantangan sesungguhnya, menurut Yusuf, justru akan mulai terlihat setelah kuartal I-2026. Pemerintah dinilai harus mampu memastikan bahwa mesin pertumbuhan berikutnya berasal dari sektor swasta, baik melalui investasi, ekspor, maupun konsumsi masyarakat yang benar-benar pulih.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar