Filipina Pangkas Target Ekonomi di Tengah Tekanan Global dan El Nino

- Selasa, 30 Juni 2026 | 04:06 WIB
Filipina Pangkas Target Ekonomi di Tengah Tekanan Global dan El Nino

Pemerintah Filipina memangkas target pertumbuhan ekonomi dan merevisi asumsi nilai tukar peso ke level yang lebih lemah hingga akhir masa jabatan Presiden Ferdinand Marcos Jr. pada 2028. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik di Timur Tengah dan dampak cuaca ekstrem El Nino.

Berdasarkan memorandum Development Budget Coordination Committee (DBCC), ekonomi Filipina diproyeksikan hanya tumbuh 3,5-4,5 persen pada 2026, lebih rendah dari target sebelumnya sebesar 5-6 persen. Pertumbuhan diperkirakan membaik menjadi 5-6 persen per tahun pada periode 2027-2030, namun tetap di bawah proyeksi yang dibuat pemerintah pada Desember tahun lalu.

Sekretaris Anggaran sementara Filipina, Kim Robert de Leon, mengatakan pemerintah masih mewaspadai sejumlah risiko yang dapat menekan pertumbuhan. "Pemerintah tetap mewaspadai berbagai risiko penurunan, seperti kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah, lemahnya kepercayaan konsumen dan dunia usaha, serta semakin parahnya fenomena El NiƱo," ujar de Leon dalam memorandum tersebut.

Pemerintahan Marcos Jr. mengusulkan anggaran nasional sebesar 7,2 triliun peso atau sekitar USD 117 miliar untuk 2027, meningkat 6 persen dibanding anggaran tahun ini. Langkah ini ditempuh untuk memulihkan ekonomi yang terdampak perang Iran. Pemerintah meyakini berbagai intervensi, seperti bantuan bagi sektor terdampak dan percepatan pembangunan infrastruktur, dapat menopang aktivitas ekonomi. "Berbagai intervensi tersebut diharapkan mampu meredam risiko yang muncul sekaligus mendukung prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah," kata de Leon.

Peso Diperkirakan Tetap Tertekan, Picu Inflasi

Selain memangkas target pertumbuhan, pemerintah Filipina juga merevisi asumsi nilai tukar peso. Peso diperkirakan berada di kisaran 60-62 per dolar AS sepanjang 2026 hingga 2030, lebih lemah dari proyeksi sebelumnya di level 58-60. Revisi ini dilakukan setelah peso sempat menyentuh rekor terendah 61,75 per dolar AS pada bulan ini. Menurut de Leon, tekanan terhadap peso masih akan berlanjut akibat konflik di Timur Tengah, meningkatnya risiko inflasi domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Pemerintah juga menaikkan asumsi inflasi menjadi 6-7 persen pada 2026 dan 4-5 persen pada 2027, jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang hanya 2-4 persen. Perang Iran disebut sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya inflasi di Filipina, karena negara tersebut mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyak dari Timur Tengah sehingga lonjakan harga energi langsung berdampak pada biaya hidup dan konsumsi rumah tangga.

Di sisi lain, perlambatan belanja pemerintah akibat skandal korupsi proyek pengendalian banjir juga ikut menghambat pertumbuhan ekonomi. Akibat berbagai tekanan tersebut, ekonomi Filipina hanya tumbuh 2,8 persen pada kuartal I 2026, menjadi laju pertumbuhan paling lambat di luar masa pandemi sejak 2009. Sepanjang 2025, ekonomi negara itu tercatat tumbuh 4,4 persen.

Sementara itu, pemerintah memperkirakan ekspor barang akan tumbuh 3 persen pada 2026, kemudian meningkat menjadi 4 persen pada 2027-2029 dan 5 persen pada 2030. Impor diproyeksikan naik 5 persen pada 2026 dan 2027, melambat menjadi 4 persen pada 2028-2029, sebelum kembali tumbuh 5 persen pada 2030.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags