Neraca Perdagangan RI Surplus 70 Bulan Berturut-turut, Ditopang Penuh Sektor Nonmigas

- Rabu, 01 April 2026 | 12:20 WIB
Neraca Perdagangan RI Surplus 70 Bulan Berturut-turut, Ditopang Penuh Sektor Nonmigas

JAKARTA – Rekor baru kembali tercipta. Neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, sebuah tren positif yang terus berlanjut sejak Mei 2020. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) untuk periode Januari-Februari 2026 menunjukkan angka fantastis: surplus kumulatif mencapai 2,23 miliar dolar AS.

Namun begitu, gambaran di balik angka agregat itu ternyata tidak seragam. Surplus yang bertahan hampir enam tahun ini ternyata ditopang sepenuhnya oleh kinerja gemilang sektor nonmigas. Sementara itu, sisi lain dari koinnya, sektor migas justru masih terperosok dalam defisit.

Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, membeberkan rinciannya dalam konferensi pers, Rabu (1/4).

“Hingga bulan Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 2,23 miliar dolar AS. Surplus sepanjang periode Januari-Februari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas 5,42 miliar dolar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit 3,19 miliar dolar AS,” jelas Ateng.

Di sisi ekspor, terjadi kenaikan tipis 2,19 persen dibanding periode sama tahun lalu. Pendorong utamanya? Sektor industri pengolahan. Nilai ekspornya melonjak 6,69 persen, menyentuh angka 37,06 miliar dolar AS. Tiga pasar utama tetap tidak berubah: China, Amerika Serikat, dan India. Ketiganya menyumbang hampir 44 persen dari total ekspor nonmigas kita.

China masih yang terbesar, tentu saja. Nilai ekspor nonmigas ke sana mencapai 10,46 miliar dolar AS, didominasi oleh besi, baja, nikel, dan bahan bakar mineral. Lalu ada AS dengan 5 miliar dolar AS dari mesin elektrik, alas kaki, dan pakaian rajut. India menyusul di posisi ketiga.

Tapi ceritanya jadi lain kalau kita lihat sisi impor. Di sini, angkanya justru melesat naik 14,44 persen menjadi 42,09 miliar dolar AS. Kenaikan tajam ini terutama berasal dari impor nonmigas, yang naik lebih dari 17 persen. Menariknya, impor migas justru turun 3,5 persen.

Lalu, barang apa saja yang lebih banyak kita impor? Ternyata semuanya naik. Mulai dari barang modal yang melonjak drastis 34,44 persen, bahan baku, hingga barang konsumsi. Ini bisa jadi sinyal permintaan industri yang masih kuat, meski perlu dicermati lebih lanjut.

Dan lagi-lagi, China mendominasi. Negeri Tirai Bambu itu menjadi sumber utama impor nonmigas kita dengan porsi sangat besar, 42,46 persen. Australia dan Singapura menyusul di belakangnya, meski dengan nilai yang jauh lebih kecil.

Jadi, dari mana sebenarnya surplus 5,42 miliar dolar AS di sektor nonmigas itu berasal? Lima komoditas jadi penyokong utamanya. Peringkat pertama diduduki oleh lemak dan minyak hewan/nabati dengan surplus hampir 6,5 miliar dolar AS. Disusul oleh bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel, serta alas kaki yang masing-masing menyumbang miliaran dolar AS.

Secara keseluruhan, performa perdagangan kita di awal 2026 ini cukup solid. Rekor 70 bulan surplus adalah pencapaian yang patut diapresiasi. Tapi, ketergantungan pada sektor nonmigas dan defisit migas yang masih membayangi, jelas menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar