Bingung soal Masa Depan? Itu Wajar, Kata Psikolog

- Minggu, 12 Juli 2026 | 00:06 WIB
Bingung soal Masa Depan? Itu Wajar, Kata Psikolog

Pertanyaan "Kamu mau jadi apa lima tahun lagi?" seringkali terasa menyesakkan. Sejak kecil, masyarakat mengajarkan bahwa hidup harus memiliki jawaban pasti: jurusan kuliah, pekerjaan, pernikahan, rumah. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak orang yang tampak yakin di luar, tetapi diam-diam masih mempertanyakan pilihan hidupnya.

Media sosial jarang memperlihatkan keraguan itu. Yang terlihat hanyalah pencapaian: diterima di perusahaan impian, lolos beasiswa, membuka bisnis. Sementara itu, banyak orang masih duduk di kamar, membuat daftar rencana, lalu menghapusnya karena merasa belum cukup matang. Tanpa sadar, kita mulai berpikir bahwa hanya kita yang belum tahu ingin menjadi apa. Padahal, hampir semua orang sedang mencari jawabannya masing-masing.

Masalahnya bukan karena kita belum memiliki jawaban, melainkan karena merasa harus segera menemukannya. Tekanan untuk selalu tahu arah hidup membuat banyak orang mengambil keputusan bukan karena siap, tetapi karena takut dianggap tertinggal. Ada yang menerima pekerjaan yang tidak disukai karena semua temannya sudah bekerja, ada yang melanjutkan pendidikan karena takut terlihat diam, dan ada yang memaksakan membuka usaha hanya karena merasa semua orang sedang bergerak.

Keputusan yang lahir dari rasa panik seringkali membuat kita semakin jauh dari diri sendiri. Menurut psikolog Jeffrey Arnett, masa transisi menuju dewasa merupakan periode eksplorasi identitas. Pada fase ini, wajar apabila seseorang masih mencoba berbagai kemungkinan, mempertanyakan pilihan hidup, bahkan beberapa kali mengubah arah sebelum menemukan jalan yang paling sesuai. Kebingungan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses mengenali diri.

Sayangnya, kita hidup di zaman yang menghargai kepastian lebih tinggi daripada proses. Orang yang sudah memiliki rencana lima tahun dianggap visioner, sementara yang masih mencari dianggap kurang ambisius. Padahal, hidup tidak selalu berjalan mengikuti timeline yang kita buat. Ada yang menemukan passion sejak usia 18 tahun, ada yang baru menyadarinya di usia 30, dan ada yang berganti jalan berkali-kali sebelum akhirnya menemukan tempat yang membuatnya bertumbuh.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Yang sering membuat lelah bukan karena belum menemukan jawaban, melainkan karena terus merasa terlambat. Hidup bukan perlombaan mencari siapa yang paling cepat selesai, melainkan perjalanan panjang yang setiap orang tempuh dengan kecepatan berbeda. Ambisi yang lebih sehat adalah keberanian untuk tetap berjalan meski belum mengetahui seluruh jawabannya. Kita tidak harus memahami seluruh peta sebelum mengambil satu langkah kecil. Kadang cukup tahu arah berikutnya, sisanya akan kita pelajari sambil berjalan.

Tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini, tidak semua keraguan harus segera dihilangkan, dan tidak semua keputusan harus diambil secepat mungkin. Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami setelah kita benar-benar menjalaninya. Mungkin hari ini kita masih sering berkata, "Aku belum tahu." Dan itu tidak apa-apa. Menjadi lazy ambitious bukan berarti kehilangan tujuan, melainkan berhenti memaksa diri untuk memiliki semua jawaban, lalu memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh dengan waktunya masing-masing.

Suatu hari nanti, ketika menoleh ke belakang, mungkin kita akan menyadari bahwa semua kebingungan yang pernah kita takutkan ternyata hanyalah bagian dari perjalanan menuju diri kita yang sebenarnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.