Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, punya kabar yang bikin dunia internasional menahan napas. Di hari Selasa kemarin, dia bilang Washington bakal mempertimbangkan ulang komitmennya terhadap NATO. Ini semua terjadi setelah perang dengan Iran berakhir.
“Saya pikir tidak diragukan lagi, sayangnya, setelah konflik ini berakhir, kita harus meninjau kembali hubungan itu. Kita harus meninjau kembali nilai NATO dalam aliansi itu untuk negara kita,” ujar Rubio dalam wawancara dengan Sean Hannity di Fox News.
Menurut dia, keputusan akhirnya tentu saja ada di tangan Presiden Donald Trump.
Lucunya, Rubio sendiri mengaku pernah jadi salah satu pendukung paling vokal untuk NATO. Saat masih duduk di Senat AS dulu, dia melihat aliansi itu punya nilai strategis yang besar. Tapi sekarang? Persepsinya berubah.
Nilai utama NATO bagi AS, katanya, selama ini terletak pada akses ke pangkalan-pangkalan militer di Eropa. Dari sanalah militer Amerika bisa memproyeksikan kekuatan ke berbagai belahan dunia.
“Kalau sekarang kita sampai pada titik di mana aliansi NATO justru menghalangi kita menggunakan pangkalan-pangkalan itu, ya artinya NATO cuma jalan satu arah,” tambahnya, nada suaranya terdengar kesal.
Rubio lalu menyoroti sikap sekutu saat perang dengan Iran. Washington memang tak meminta mereka ikut melakukan serangan udara. Tapi ketika AS butuh izin pakai pangkalan militer mereka, jawabannya cuma penolakan.
“Lalu buat apa kita tetap di NATO? Pertanyaan itu harus diajukan,” tandasnya.
Artikel Terkait
PULDAPII dan LIMA Events Luncurkan Muslim EduFest, Pameran Pendidikan Islam untuk Bantu Orang Tua Pilih Sekolah Anak
Polres Bogor Perketat Pengawasan di Titik Rawan Curanmor, Buru Pelaku hingga ke Tempat Persembunyian
Bupati Morowali Ciptakan Mesin Pemilah Sampah Otomatis untuk Atasi Limbah Kawasan Industri Bahodopi
Rusa di Taman Sriwedari Solo Ditemukan Mengais Sampah, Wakil Wali Kota Turun Tangan