Perang Melawan Stunting di Maluku Utara: Kolaborasi yang Mulai Berbuah
Isu stunting masih jadi pekerjaan rumah besar bagi banyak daerah di Indonesia, tak terkecuali Maluku Utara. Tantangan ini nyata, terutama di wilayah kepulauan yang terpencil. Dampaknya pun jauh melampaui sekadar tinggi badan anak. Perkembangan otak dan masa depan produktivitas mereka juga taruhannya.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda, penanganan masalah ini memang digenjot. Layanan kesehatan dan pemenuhan gizi anak jadi prioritas. Tapi pemerintah sadar, urusan sekompleks ini mustahil ditangani sendirian.
"Penanganan stunting harus menyentuh masyarakat secara langsung. Intervensi harus dimulai sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak agar kita benar-benar menghasilkan generasi yang sehat,"
tegas Sherly dalam sebuah keterangan tertulis pertengahan pekan lalu.
Nah, dorongan untuk kolaborasi itu kemudian menjembatani langkah swasta. Di Pulau Obi, program Soligi Zero Stunting yang dijalankan Harita Nickel sejak 2022 jadi contoh nyata. Menurut Broto Suwarso, Community Development Manager perusahaan tersebut, program ini memadukan banyak hal: intervensi gizi, edukasi, plus penguatan layanan kesehatan dasar.
"Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama. Kami percaya, kesehatan anak adalah fondasi penting bagi masa depan yang lebih kuat dan sejahtera,"
paparnya. Program ini sekaligus bentuk dukungan pada target pemerintah daerah.
Meski begitu, jalan menuju nol stunting tak mulus. Di lapangan, tantangan klasik masih menghadang. Kapasitas kader posyandu, misalnya, masih perlu ditingkatkan terutama untuk pemantauan tumbuh kembang yang akurat. Fasilitas kesehatan juga terbatas gedung Puskesmas saja seringkali belum memadai. Belum lagi soal ketersediaan alat kesehatan, obat, dan tenaga medis yang masih serba minim. Akses air bersih yang layak pun masih jadi persoalan tersendiri bagi banyak keluarga.
Menjawab kendala itu, Harita Nickel bergerak lewat beberapa pendekatan. Mereka menggandeng kader posyandu, bidan, dan anggota PKK sebagai ujung tombak. Edukasi intensif diberikan kepada puluhan peserta, membahas dari akar masalah hingga cara pencegahan stunting. Mereka juga dilatih menggunakan alat ukur antropometri dan mengisi Kartu Menuju Sehat (KMS).
Murni, salah satu kader posyandu di Desa Soligi, menceritakan aktivitas rutin mereka. Selain penimbangan bulanan dan bagi-bagi makanan tambahan, timnya kerap 'jemput bola'.
"Kami juga proaktif mengunjungi rumah-rumah balita berisiko stunting dan memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu agar memperhatikan gizi anak-anak serta rutin memeriksakan kandungan ke puskesmas,"
Artikel Terkait
Menteri Ketenagakerjaan Anjurkan WFH Satu Hari Seminggu, Sektor Vital Dikecualikan
Komisi III DPR Pertimbangkan Bentuk Pansus untuk Kasus Penyiraiman Andrie Yunus
AS Pertimbangkan Ulang Komitmen ke NATO Usai Perang Iran, Kata Menlu Rubio
Atap Rumah Warga Kediri Ambruk Diterpa Hujan, Tak Ada Korban Jiwa