Rabu lalu, Menlu Indonesia Sugiono mengangkat telepon. Di seberang garis, ada Pangeran Faisal bin Farhan, Menteri Luar Negeri Arab Saudi. Obrolan mereka berpusat pada satu hal: situasi memanas di Timur Tengah yang kian mencemaskan.
Dalam sebuah pernyataan yang dibagikan lewat akun X-nya, Sugiono tak menyembunyikan kegelisahan Jakarta. "Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam atas peningkatan konflik terbaru ini," ujarnya, mengutip laporan Antara, Kamis (5/3/2026).
Ia menekankan satu prinsip dasar yang menurutnya tak boleh dilanggar: penghormatan terhadap kedaulatan dan batas wilayah setiap negara. Hal itu, tegasnya, harus sesuai dengan hukum internasional dan Piagam PBB.
"Saya juga menyampaikan dukungan berkelanjutan Indonesia untuk de-eskalasi," lanjut Sugiono.
Seruannya jelas: semua pihak perlu menahan diri.
Di sisi lain, pihak Saudi lewat unggahan terpisah di platform yang sama mengonfirmasi panggilan itu. Mereka menyebut kedua menteri memang membahas perkembangan terbaru di kawasan dan berbagai upaya untuk meredakan ketegangan. Nada mereka sejalan, meski detailnya tak sepenuhnya diungkap.
Latar belakang percakapan diplomatik ini memang suram. Memasuki akhir Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran. Serangan itu dikabarkan menimbulkan kerusakan dan, yang paling memilukan, korban di kalangan warga sipil. Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di sekitar sana.
Menghadapi eskalasi yang berbahaya ini, Indonesia tak cuma berpangku tangan. Pemerintah secara tegas menyerukan penghentian permusuhan segera. Lebih dari itu, mereka menyatakan kesiapan untuk turun tangan memfasilitasi dialog yang diharapkan bisa mengembalikan stabilitas di kawasan.
Bahkan Presiden Prabowo Subianto, melalui jalur diplomasi Kemenlu, ikut menyuarakan hal serupa. Indonesia siap mendukung segala upaya diplomatik yang bertujuan meredakan ketegangan. Itu komitmen yang mereka pegang, di tengah situasi yang makin rumit dan tak menentu.
Artikel Terkait
Dua Pelaku Penikaman Ketua Golkar Malra Ditangkap di Bandara
Kecelakaan Beruntun di Probolinggo Tewaskan Satu Keluarga dari Blitar
Buku Biografi Kebijakan Kikiek Kupas Kapolri Listyo Sigit Lewat Keputusan Genting
Iran Siap Kerahkan Semua Kemampuan Hadapi Ancaman AS di Selat Hormuz