Siapa yang boleh hadir? Hanya pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar perusahaan hingga penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026.
Di sisi lain, Susan menegaskan bahwa stock split ini murni soal aksesibilitas, bukan mengubah nilai kepemilikan. Hak dan nilai investasi para pemegang saham lama tetap sama, hanya jumlah lembar sahamnya yang bertambah. Logikanya sederhana: dengan harga per lembar yang lebih murah, lebih banyak orang bisa membeli. Basis investor pun melebar.
tambahnya. Imbasnya, volume perdagangan diharapkan jadi lebih aktif dan struktur kepemilikan saham perusahaan juga semakin kuat.
Dampak teknisnya cukup signifikan. Jumlah saham beredar DSSA bakal melonjak dari sekitar 7,7 miliar lembar menjadi 192,6 miliar lembar. Nilai nominal per sahamnya juga ikut mengecil, dari Rp25 menjadi hanya Rp1 per lembar.
Intinya, langkah ini adalah strategi untuk mendemokratisasi kepemilikan. Dengan menarik lebih banyak pemain ritel ke dalam pasar, likuiditas meningkat dan persepsi terhadap prospek perusahaan di masa depan bisa semakin positif. Sekarang, tinggal menunggu persetujuan dari para pemegang saham dalam RUPSLB nanti.
Artikel Terkait
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WIKA Pangkas Utang Rp3,87 Triliun Meski Rugi Bersih Membengkak
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168