Harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melambung tinggi, nyaris sentuh Rp100 ribu per lembar, rupanya jadi perhatian serius manajemen. Mereka punya rencana. Untuk membuat sahamnya lebih terjangkau, terutama bagi investor ritel, emiten energi Sinarmas Group ini berencana melakukan pemecahan saham atau stock split.
Rencananya, pemecahan dilakukan dengan rasio 1 banding 25. Coba bayangkan, dari satu saham yang harganya Rp94.000, nanti akan dipecah menjadi 25 saham. Hasilnya? Harga per sahamnya bakal turun drastis, mengerucut di kisaran Rp3.750-an. Tentu saja, langkah ini diharapkan bisa membuka keran likuiditas yang lebih deras.
Corporate Secretary DSSA, Susan Chandra, sudah memberikan penjelasan resmi. Menurutnya, harga satu lot saham DSSA saat ini terlalu mahal bagi kebanyakan investor kecil.
"Hal ini berdampak pada keterbatasan likuiditas perdagangan saham perseroan,"
ungkap Susan dalam keterbukaan informasi di akhir Januari lalu.
Nah, untuk mewujudkan aksi korporasi ini, perusahaan harus menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dulu. Rapatnya dijadwalkan pada Rabu, 11 Maret 2026 mendatang, dan akan digelar secara hybrid. Peserta bisa datang langsung ke Sinar Mas Land Plaza di Jakarta, atau ikut secara daring lewat platform eASY.KSEI.
Siapa yang boleh hadir? Hanya pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar perusahaan hingga penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026.
Di sisi lain, Susan menegaskan bahwa stock split ini murni soal aksesibilitas, bukan mengubah nilai kepemilikan. Hak dan nilai investasi para pemegang saham lama tetap sama, hanya jumlah lembar sahamnya yang bertambah. Logikanya sederhana: dengan harga per lembar yang lebih murah, lebih banyak orang bisa membeli. Basis investor pun melebar.
"Dengan stock split, diharapkan dapat meningkatkan jumlah saham beredar, sehingga menjadikan harga per saham menjadi lebih terjangkau,"
tambahnya. Imbasnya, volume perdagangan diharapkan jadi lebih aktif dan struktur kepemilikan saham perusahaan juga semakin kuat.
Dampak teknisnya cukup signifikan. Jumlah saham beredar DSSA bakal melonjak dari sekitar 7,7 miliar lembar menjadi 192,6 miliar lembar. Nilai nominal per sahamnya juga ikut mengecil, dari Rp25 menjadi hanya Rp1 per lembar.
Intinya, langkah ini adalah strategi untuk mendemokratisasi kepemilikan. Dengan menarik lebih banyak pemain ritel ke dalam pasar, likuiditas meningkat dan persepsi terhadap prospek perusahaan di masa depan bisa semakin positif. Sekarang, tinggal menunggu persetujuan dari para pemegang saham dalam RUPSLB nanti.
Artikel Terkait
Bukalapak Simpan Rp 4,3 Triliun Dana IPO di Deposito dan Obligasi Negara
Bea Cukai Banten Resmikan NICE PIK 2 Sebagai Tempat Pameran Berikat
DSSA Rencanakan Stock Split 1:25 untuk Dongkrak Likuiditas Saham
DSSA Gelar RUPSLB Bahas Stock Split 1:25 untuk Turunkan Harga Saham