DSSA Rencanakan Stock Split 1:25 untuk Dongkrak Likuiditas Saham

- Selasa, 17 Februari 2026 | 15:00 WIB
DSSA Rencanakan Stock Split 1:25 untuk Dongkrak Likuiditas Saham

Harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melambung tinggi, nyaris sentuh Rp100 ribu, rupanya bakal segera 'dipotong'. Emiten energi dari Sinarmas Group ini baru saja mengumumkan rencana pemecahan saham atau stock split. Tujuannya jelas: mendongkrak likuiditas dan membuka pintu lebih lebar untuk investor ritel.

Rencananya, pemecahan akan dilakukan dengan rasio 1 banding 25. Jadi, satu saham lama akan dipecah menjadi dua puluh lima saham baru. Kalau saat ini harganya berkisar Rp94.000 per lembar, nanti pasca-split harganya bakal berada di kisaran Rp3.750-an. Jelas jauh lebih terjangkau, bukan?

Corporate Secretary DSSA, Susan Chandra, menjelaskan alasan di balik langkah korporasi ini. "Harga saham DSSA saat ini sangat tinggi," ujarnya dalam keterbukaan informasi di akhir Januari lalu.

Akibatnya, untuk membeli satu lot saja yaitu 100 saham investor perlu merogoh kocek yang dalam. "Hal ini berdampak pada keterbatasan likuiditas perdagangan saham perseroan," tambah Susan. Intinya, saham jadi kurang cair karena pemainnya terbatas pada mereka yang modalnya besar.

Nah, dengan stock split ini, harapannya bisa berbeda. Harga per lembar yang lebih murah diharapkan mampu menarik minat lebih banyak investor, terutama dari kalangan ritel. Basis pemegang saham pun bakal melebar, yang pada gilirannya bisa memperkuat struktur kepemilikannya.

Yang pasti, volume perdagangan diprediksi akan lebih aktif. Dan dalam jangka panjang, ini bisa menciptakan persepsi positif terhadap prospek perusahaan.

Untuk mewujudkan rencana ini, perusahaan telah menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rapat digelar Rabu, 11 Maret 2026 mendatang, bertempat di Sinar Mas Land Plaza, Menuru Thamrin, Jakarta. Rapat akan diadakan secara hybrid; bisa hadir langsung atau ikut daring via platform eASY.KSEI.

Bagi yang mau hadir, catat baik-baik: hak untuk menghadiri rapat hanya dimiliki oleh pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar perusahaan pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026.

Dampak teknis dari aksi ini cukup signifikan. Jumlah saham beredar DSSA bakal melonjak dari sekitar 7,7 miliar saham menjadi 192,6 miliar saham. Nilai nominal per sahamnya pun menyusut, dari Rp25 menjadi hanya Rp1 per lembar.

Tapi Susan menegaskan satu hal penting. "Aksi korporasi ini tidak mengubah hak atau nilai kepemilikan saham yang sudah dimiliki pemegang saham," tegasnya. Penyesuaian jumlah dan harga saham akan dilakukan secara proporsional, sehingga nilai total investasi para pemegang saham tetap setara dengan sebelum stock split. Jadi, jangan khawatir, kepemilikan Anda tidak tergerus, hanya bentuknya saja yang berubah.

Rencana ini sendiri sudah dikonfirmasi oleh manajemen DSSA pada Selasa (17/2/2026) lalu. Tinggal menunggu persetujuan dari para pemegang saham dalam RUPSLB nanti.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar