Proyek Wisata Setu Babakan Rusak Jalan Utama, Pedagang Keluhkan Sepi Pengunjung

- Selasa, 17 Februari 2026 | 16:30 WIB
Proyek Wisata Setu Babakan Rusak Jalan Utama, Pedagang Keluhkan Sepi Pengunjung

MURIANETWORK.COM - Proyek pengembangan kawasan wisata budaya Setu Babakan di Jagakarsa, Jakarta Selatan, justru menimbulkan persoalan baru. Jalan utama menuju lokasi sejak Oktober 2025 berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilintasi, diduga akibat lalu lintas kendaraan berat proyek. Kondisi ini telah menyebabkan kecelakaan dan mengancam mata pencaharian pedagang setempat yang mengeluhkan sepinya pengunjung.

Pantauan di lokasi pada Selasa (17/2/2026) memperlihatkan pemandangan yang memprihatinkan. Permukaan jalan didominasi gumpalan lumpur pekat berwarna cokelat, dengan genangan air keruh menyembunyikan lubang-lubang dalam. Pengendara yang mendekati area tersebut tampak ragu-ragu, banyak yang akhirnya memutar balik setelah mendapat peringatan dari warga.

Seorang pedagang di lokasi dengan sigap mengingatkan pengendara yang lajunya terpaksa berhenti.

"Putar balik aja, nggak bisa dilewatin," imbaunya.

Kerusakan yang Semakin Parah

Ida, salah satu pedagang di kawasan Setu Babakan, menjelaskan bahwa kerusakan jalan sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Menurut penuturannya, masalah ini semakin menjadi-jadi ketika musim hujan tiba.

"Sekitar bulan November. Sebenernya dari Oktober udah mulai rusak, tapi parahnya pas November, pas mulai hujan," ujar Ida saat ditemui di lapaknya.

Ia menduga, kondisi ini tak lepas dari mobilitas kendaraan proyek milik Pemprov DKI Jakarta yang hilir mudik mendukung pembangunan. Proyek yang bertujuan mempercantik fasilitas wisata, termasuk pembangunan zona kuliner, justru menjadi biang keladi kerusakan infrastruktur akses.

"Ya gitu, truk-truk molen kan pada lewat terus buat ke proyek," jelasnya mengenai penyebab kerusakan.

"Kalau yang kami denger sih katanya buat bangun zona kuliner gitu. Tapi saya juga kurang paham detailnya," tambah Ida.

Keluhan Warga dan Respons yang Minim

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar