Dulu, urusan keamanan siber kerap dianggap sebagai masalah teknis belaka. Biarkan saja tim IT yang urus di balik pintu ruang server yang dingin. Tapi, anggapan itu sekarang sudah usang. Laporan Pertahanan Digital Microsoft 2025 menyebutnya dengan tegas: era itu sudah berakhir. Kini, ancaman digital telah naik kelas. Ia bukan lagi sekadar gangguan teknis, melainkan risiko bisnis strategis yang harus jadi agenda utama di meja direksi.
Laporan tahun ini cukup gamblang. Di tengah gempuran serangan yang makin canggih dan cepat dipacu oleh AI ketergantungan pada teknologi semata ibarat membangun benteng dari pasir. Kuncinya justru ada di tata kelola organisasi yang solid. Dan yang tak kalah penting, ketahanan manusia sebagai garda terakhir.
Menurut Microsoft, organisasi yang paling tangguh adalah mereka yang menyelipkan prinsip keamanan dalam setiap keputusan bisnis. Ada tren yang menggembirakan, di mana dewan direksi mulai menyelipkan metrik keamanan siber ke dalam laporan kinerja perusahaan. Ini langkah yang signifikan.
"Keamanan siber kini sejajar dengan risiko finansial dan risiko hukum," begitu bunyi laporan tersebut.
Tanpa komitmen nyata dari pucuk pimpinan, investasi mahal untuk teknologi keamanan terbaru bisa jadi sia-sia. Alhasil, kebijakan operasional tak sejalan dengan protokol keamanan yang ada. Direksi sekarang dituntut untuk paham betul profil risiko organisasinya, lalu mengalokasikan anggaran dan sumber daya manusia yang memadai untuk menanganinya.
Nah, di sini poin yang menarik: "Ketahanan Manusia". Faktanya, meski perusahaan menggelontorkan jutaan dolar untuk perangkat lunak canggih, kesalahan manusia tetap menjadi celah utama. Lebih dari 70% pelanggaran data berawal dari sana.
Artikel Terkait
Sistem Kesehatan Lebanon Selatan Kolaps di Tengah Serangan Israel
Sari Roti Ekspansi ke Industri Pakan Ternak, Manfaatkan Roti Sisa Produksi
Operasi Damai Cartenz Tangkap Anggota KKB Terduga Pelaku Penyerangan ke Tito Karnavian di 2012
Lebih dari 2.500 Pengunjung Padati Kawasan Monas Saat Libur Jumat Agung