Militer Israel membuka penyelidikan atas tewasnya seorang bayi berusia tujuh bulan akibat tembakan pasukan Israel di Tepi Barat, sebuah insiden yang kembali menyoroti tingginya ketegangan di wilayah pendudukan tersebut. Bayi yang bernama Sam Fahd Abou Haikal itu meninggal dunia, sementara kedua orang tuanya mengalami luka ringan ketika pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah mobil keluarga mereka di kota Hebron.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat lalu. Militer Israel awalnya menyatakan bahwa pasukannya menembak setelah melihat sebuah kendaraan melaju ke arah mereka. Namun, penyelidikan awal justru menemukan bahwa ketiga warga Palestina tersebut adalah warga sipil yang sama sekali tidak terlibat dalam aktivitas mencurigakan.
Pada hari Minggu, militer Israel mengumumkan akan membuka penyelidikan resmi atas insiden tersebut. “Berdasarkan temuan pemeriksaan pendahuluan, diputuskan untuk membuka penyelidikan oleh Divisi Investigasi Kriminal Kepolisian Militer,” demikian pernyataan resmi militer Israel. Setelah proses penyelidikan selesai, temuan tersebut akan diserahkan ke Kantor Jaksa Agung Militer untuk ditindaklanjuti.
Sementara itu, kekerasan di Tepi Barat terus meningkat sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023, dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel. Wilayah yang telah diduduki Israel sejak 1967 itu nyaris setiap hari diguncang bentrokan dan aksi kekerasan. Menurut data kementerian kesehatan Palestina yang dihimpun oleh AFP, setidaknya 1.080 warga Palestina tewas sejak saat itu, baik militan maupun warga sipil.
Di sisi lain, angka resmi Israel mencatat bahwa sedikitnya 46 warga Israel termasuk warga sipil dan tentara tewas dalam serangan Palestina atau selama operasi militer Israel dalam periode yang sama. Insiden terbaru ini menjadi pengingat betapa rentannya warga sipil, terutama anak-anak, dalam konflik yang tak kunjung mereda.
Artikel Terkait
Warga Sumenep Ditangkap Polisi Usai Tipu Korban Rp600 Juta dengan Modus Kelulusan Polri dan PNS
Menteri Lingkungan Hidup Dorong Tobat Ekologis sebagai Gerakan Nasional Atasi Krisis Alam
BWF Jadikan Indonesia Open 2026 Tolok Ukur Standar Turnamen Global
Kebijakan Visa AS Dinilai Hambat Antusiasme Suporter ke Piala Dunia 2026