Upaya pemerintah menata distribusi pangan di pasar-pasar rakyat mulai membuahkan hasil. Di Banten, misalnya, percepatan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pedagang mulai membuka akses mereka ke rantai pasok resmi. Salah satu dampaknya, pasokan minyak goreng Minyakita jadi lebih lancar.
Namun begitu, di lapangan masih ada kendala. Pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menemui pedagang yang belum punya NIB. Akibatnya, mereka kesulitan mendapat pasokan resmi dari Bulog. Hal ini tentu saja berpotensi mengganggu stabilitas harga di tingkat konsumen.
Menanggapi temuan itu, Pemerintah Provinsi Banten lewat DPMPTSP langsung bergerak. Mereka menggelar layanan "jemput bola" ke pasar-pasar. Di Pasar Baros, Kabupaten Serang, misalnya, 50 NIB diterbitkan secara gratis untuk para pedagang di sana.
“Temuan di lapangan jelas,” ujar pernyataan resmi Bapanas, Jumat (3/4/2026).
“Tanpa NIB, pedagang tidak bisa mengakses pasokan resmi dari Bulog. Ini yang membuat distribusi tidak efisien dan berpotensi mendorong harga naik. Maka percepatan penerbitan NIB jadi langkah strategis agar rantai pasok lebih pendek, transparan, dan harga di konsumen tetap sesuai HET.”
Satgas di lapangan disebut tidak cuma memantau harga. Mereka juga menelusuri akar persoalan di balik gejolak harga yang terjadi.
Virgojanti, Kepala DPMPTSP Provinsi Banten, menjelaskan skema layanan yang mereka berikan. Layanan POLI Perizinan di pasar dirancang untuk mempermudah pedagang. Prosesnya dibuat cepat, simpel, dan yang penting gratis.
“Kami ingin pedagang di pasar seperti di Baros tidak lagi bingung soal izin,” kata Virgojanti.
“Prosesnya kami buat sederhana, cepat, gratis dan langsung jadi. Kami juga datang langsung ke pasar, jemput bola, sehingga pedagang cukup membawa data dasar dan kami bantu sampai NIB terbit. Ini lebih efektif dibanding mereka harus datang ke kantor.”
Dengan NIB di tangan, posisi pedagang berubah. Mereka kini punya identitas usaha yang jelas dan masuk dalam sistem distribusi pemerintah. Artinya, mereka bisa terhubung langsung dengan Bulog untuk mendapatkan Minyakita di harga Rp14.500 per liter, lalu menjualnya sesuai HET Rp15.700.
“Ini bukan sekadar izin,” tambah Virgojanti.
“Ini juga pintu masuk agar mereka bisa terdata dalam sistem distribusi. Ke depan, ini juga memudahkan mereka mengakses pembiayaan, program pemerintah, dan mendorong usaha mereka naik kelas.”
Dari sisi harga, kondisi di Pasar Baros terpantau relatif stabil. Beras premium dijual Rp14.400 per kilogram. Harga telur ayam ras ada di kisaran Rp29.000, masih sesuai acuan. Untuk gula kemasan, harganya Rp17.500 per kg.
Komoditas seperti cabai merah keriting dijual Rp40.000, bawang merah Rp35.000, dan bawang putih Rp33.000. Sementara daging ayam ras ada di harga Rp38.000 per kilogram. Stok bahan pangan di tingkat pedagang juga dilaporkan aman.
Langkah selanjutnya? Setelah pedagang terdata dengan NIB, Bapanas akan berkoordinasi lebih intens dengan Bulog. Tujuannya, mempercepat distribusi dan memastikan pasokan Minyakita sampai langsung ke tangan pedagang mitra. Harapannya, celah distribusi yang kerap bikin harga melambung bisa ditutup. Stabilitas pasokan dan harga pangan, terutama untuk Minyakita, pun bisa lebih terjaga.
Artikel Terkait
Imigrasi Soekarno-Hatta Ungkap Dua Modus Calon Haji Ilegal: Wisata Palsu hingga Visa Kerja
Arus Balik Iduladha: 98 Ribu Kendaraan Masuk Jakarta, Lonjakan Tertinggi di Tol Cikunir
Zdrink, UMKM Binaan BRI, Buktikan Ide Sederhana dari Kebiasaan Anak Sekolah Bisa Tumbuh Jadi Bisnis Minuman Cokelat
PBB Kecam Rencana Israel Perluas Pendudukan di Gaza hingga 70 Persen