PBB Kecam Rencana Israel Perluas Pendudukan di Gaza hingga 70 Persen

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:00 WIB
PBB Kecam Rencana Israel Perluas Pendudukan di Gaza hingga 70 Persen

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melontarkan kecaman keras terhadap rencana Israel yang hendak memperluas wilayah pendudukannya di Jalur Gaza hingga mencapai 70 persen dari total luas daerah kantong tersebut. Sikap tegas ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, yang menegaskan bahwa seluruh wilayah Gaza merupakan hak mutlak milik rakyat Palestina dan tidak boleh berada di bawah pendudukan permanen oleh pihak mana pun.

“Seratus persen Gaza harus menjadi milik rakyat Palestina,” ujar Dujarric kepada wartawan di markas besar PBB, New York, Sabtu (30/5/2026). Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa posisi PBB terhadap pendudukan Israel di wilayah Palestina tidak pernah berubah. Organisasi internasional itu terus mendesak Israel untuk menarik seluruh pasukannya dari zona yang selama ini dikenal sebagai “garis kuning”.

Garis tersebut merupakan batas sementara yang memisahkan wilayah yang dikuasai militer Israel dengan area yang masih dihuni oleh warga Palestina. “Itulah yang ingin kami lihat. Kami telah menyerukan Israel untuk menarik diri dari pendudukannya di sepanjang apa yang disebut garis kuning, dan itu akan terus menjadi posisi kami,” tegas Dujarric. Pernyataan ini sekaligus menegaskan kembali penolakan PBB terhadap segala bentuk perluasan wilayah pendudukan di Gaza.

Respons PBB ini muncul setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pihaknya saat ini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza. Netanyahu bahkan mengisyaratkan adanya rencana untuk memperluas kendali Israel hingga mencapai 70 persen. Meski demikian, pemerintah Israel belum memberikan penjelasan rinci mengenai mekanisme maupun tahapan yang akan ditempuh untuk merealisasikan target tersebut.

Sebelumnya, pada Oktober tahun lalu, militer Israel mengumumkan telah menguasai sekitar 53 persen wilayah Jalur Gaza setelah melakukan penempatan ulang pasukan di sepanjang “garis kuning”. Langkah itu merupakan bagian dari tahap awal rencana yang pernah diusulkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakhiri konflik di Gaza. Dalam skema tersebut, tahap berikutnya mencakup penarikan sebagian pasukan Israel dari sejumlah wilayah tertentu.

Sementara itu, berbagai sumber Palestina menyebutkan bahwa batas “garis kuning” terus bergeser ke arah barat dalam beberapa bulan terakhir. Pejabat senior Hamas, Bassem Naim, mengonfirmasi bahwa Israel telah menggeser zona tersebut lebih jauh ke dalam wilayah Gaza. Menurutnya, perluasan area itu membuat wilayah yang kini berada di bawah kendali Israel telah melampaui 60 persen dari total luas Jalur Gaza.

“Israel telah menggeser garis itu lebih jauh sekitar 8 hingga 9 persen ke dalam wilayah Gaza,” kata Naim. Hamas menilai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis Israel untuk memperluas kontrolnya atas wilayah Palestina di tengah berlanjutnya konflik di Gaza. Situasi ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa pendudukan Israel di Gaza tidak bersifat sementara, melainkan mengarah pada aneksasi permanen.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags