Kolaborasi ITB dan IIDI Pasok Air Bersih untuk 1.000 Jiwa di Agam Pascabanjir

- Sabtu, 04 April 2026 | 01:15 WIB
Kolaborasi ITB dan IIDI Pasok Air Bersih untuk 1.000 Jiwa di Agam Pascabanjir

Kabupaten Agam, Sumatera Barat, perlahan bangkit. Pasca banjir bandang yang meluluhlantakkan wilayah itu, upaya pemulihan kini mulai terlihat nyata. Salah satunya di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan. Di sana, akses air bersih yang sempat putus akhirnya mengalir lagi berkat sebuah program kolaborasi.

Rektor ITB, Tata Cipta Dirgantara, menyerahkan program penyediaan air bersih itu secara resmi di Puskesmas Koto Alam, Jumat (3/4) lalu. Bagi masyarakat yang terdampak, ini bukan sekadar instalasi pipa. Ini tentang kehidupan yang kembali normal.

"Penyediaan akses air bersih itu langkah fundamental," ujar Tata Cipta. "Ini mendukung kesehatan, sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi warga."

ITB sendiri sebenarnya sudah lama terlibat. Sejak masa tanggap darurat hingga sekarang, mereka tercatat memasang 63 instalasi pengolahan air bersih di tiga provinsi: Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Namun begitu, kerja besar di Salareh Aia ini bukan usaha satu lembaga. Kolaborasi jadi kuncinya. ITB menggandeng Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI), dengan dukungan teknis dan dana dari Ikatan Alumni ITB, Rumah Amal Salman, serta Paragon Corp yang turut menyumbang 200 paket bingkisan untuk warga.

Menurut Ketua IIDI, Usanti, fokus mereka adalah membangun kembali apa yang rusak. "Pembangunan jaringan pipa ini didanai dari donasi masyarakat yang dihimpun untuk korban bencana di Sumatera," jelasnya.

Hasilnya? Jaringan pipa baru sepanjang 4,1 kilometer, terbuat dari bahan HDPE yang lebih tahan, kini terbentang. Infrastruktur itu melayani 281 kepala keluarga atau sekitar seribu jiwa. Kapasitasnya mencapai 35.000 liter air per hari. Untuk memudahkan, lebih dari 10 titik keran hidran juga dibangun di sejumlah lokasi.

Mipi Ananta Kusuma dari Rumah Amal Salman melihat ini lebih dari sekadar proyek fisik. "Program ini bagian dari upaya pemulihan berkelanjutan, untuk memulihkan martabat warga," katanya.

Yang menarik, proses pembangunannya melibatkan langsung lebih dari 50 warga setempat. Keterlibatan ini punya efek ganda: selain mempercepat pengerjaan, juga menciptakan dampak ekonomi sementara dan yang terpenting, menumbuhkan rasa memiliki.

Sistem air bersih ini bahkan sudah menjangkau Puskesmas Koto Alam, yang sebelumnya sempat lumpuh. Kini, fasilitas kesehatan itu bisa kembali melayani sekitar 150 pasien berkat pasokan air yang memadai.

Di sisi lain, pemerintah daerah menyambut baik langkah ini. Yunilson, Asisten I Sekda Agam, mengakui betapa krusialnya masalah air bersih pasca bencana.

"Air bersih sempat jadi masalah besar. Pelayanan Puskesmas Koto Alam sampai terhenti dua bulan. Setelah instalasi ini terpasang, semuanya sudah berjalan lagi," ucapnya.

Ia mengakui, meski masalah air di beberapa daerah seperti Palembayan, Malalak, dan Tanjung Raya mulai teratasi, masih ada instalasi lain yang perlu diperbaiki. Pemulihan pascabencana memang masih panjang. Apalagi Agam termasuk daerah terparah di Sumbar dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 7,9 triliun meliputi infrastruktur, rumah, hingga lahan pertanian yang rusak.

Karena itulah, kolaborasi seperti ini diharapkan terus berlanjut. Program di Salareh Aia barulah sebuah fondasi. Sebuah awal yang baik, sekaligus contoh nyata bagaimana gotong royong lintas pihak bisa membawa harapan baru bagi masyarakat yang sedang berusaha bangkit.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar