Mipi Ananta Kusuma dari Rumah Amal Salman melihat ini lebih dari sekadar proyek fisik. "Program ini bagian dari upaya pemulihan berkelanjutan, untuk memulihkan martabat warga," katanya.
Yang menarik, proses pembangunannya melibatkan langsung lebih dari 50 warga setempat. Keterlibatan ini punya efek ganda: selain mempercepat pengerjaan, juga menciptakan dampak ekonomi sementara dan yang terpenting, menumbuhkan rasa memiliki.
Sistem air bersih ini bahkan sudah menjangkau Puskesmas Koto Alam, yang sebelumnya sempat lumpuh. Kini, fasilitas kesehatan itu bisa kembali melayani sekitar 150 pasien berkat pasokan air yang memadai.
Di sisi lain, pemerintah daerah menyambut baik langkah ini. Yunilson, Asisten I Sekda Agam, mengakui betapa krusialnya masalah air bersih pasca bencana.
Ia mengakui, meski masalah air di beberapa daerah seperti Palembayan, Malalak, dan Tanjung Raya mulai teratasi, masih ada instalasi lain yang perlu diperbaiki. Pemulihan pascabencana memang masih panjang. Apalagi Agam termasuk daerah terparah di Sumbar dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 7,9 triliun meliputi infrastruktur, rumah, hingga lahan pertanian yang rusak.
Karena itulah, kolaborasi seperti ini diharapkan terus berlanjut. Program di Salareh Aia barulah sebuah fondasi. Sebuah awal yang baik, sekaligus contoh nyata bagaimana gotong royong lintas pihak bisa membawa harapan baru bagi masyarakat yang sedang berusaha bangkit.
Artikel Terkait
TRIS Siap Ekspansi Global, Manfaatkan Perjanjian Dagang dan Kinerja 2025 yang Solid
Pelatih Arema Ungkap Alasan Taktik Bertahan Ketat Usai Imbang Lawan Malut United
Bareskrim Blokir 80 Rekening dan Periksa 90 Saksi dalam Kasus Dugaan Penipuan PT DSI Rp 2,4 Triliun
Satria Muda Pertamina Bandung Tumbangkan Rajawali Medan dalam Drama Tipis 89-87