Gempa berkekuatan magnitudo 7,3 yang mengguncang wilayah Manado-Bitung, Kamis pagi lalu, langsung memicu aksi tanggap darurat di PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Area Lahendong. Getarannya terasa kuat, terjadi sekitar pukul setengah tujuh pagi waktu setempat.
Tak lama setelah gempa mereda, tim di lapangan langsung bergerak. Mereka melakukan monitoring penuh. Tidak hanya soal operasional dan aset, tapi yang utama adalah memastikan keselamatan para pekerja serta kondisi lingkungan di sekitarnya.
Setelah melalui pengecekan menyeluruh, hasilnya cukup melegakan. Menurut General Manager PGE Area Lahendong, Novi Purwono, seluruh fasilitas operasional dinyatakan aman dan terkendali. Situasi pascagempa bisa dikatakan stabil.
“Dari sisi operasional, seluruh unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong, dari Unit 1 sampai 6, tetap beroperasi secara stabil,” jelas Novi dalam pernyataan resminya di hari berikutnya, Jumat (3/4).
Ia menambahkan, “Selain itu, dari aspek lingkungan, tidak terdapat indikasi gangguan maupun dampak signifikan. Seluruh sistem pengamanan lingkungan dan operasional tetap berjalan sesuai standar.”
Kabar baik juga datang dari sisi keselamatan personel. Seluruh pekerja di area Lahendong dilaporkan dalam kondisi selamat. PGE sendiri terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan lokal dan memantau keadaan masyarakat sekitar. Mereka berusaha agar semua tetap tenang.
Dengan protokol keselamatan yang ketat, operasional perusahaan terus berjalan optimal. Tujuannya jelas: menjaga keandalan pasokan uap dan listrik untuk wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo. Peran mereka cukup krusial.
“PGE Area Lahendong akan terus melakukan pemantauan secara intensif,” tegas Novi Purwono lagi.
“Kami memastikan keandalan operasi, serta menjaga keselamatan seluruh pekerja, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Koordinasi dengan pihak terkait juga kami lakukan untuk respons yang cepat dan tepat,” pungkasnya.
Memang, listrik bersih dari panas bumi Lahendong ini adalah tulang punggung pasokan untuk dua wilayah tersebut. Saat ini, kapasitasnya mencapai 120 megawatt (MW) cukup untuk memenuhi sekitar 30% kebutuhan listrik di sekitarnya.
Catatan hingga akhir Desember 2025 pun impresif: PLTP Lahendong telah menghasilkan listrik sekitar 849 gigawatt-hour (GWh). Sebuah kontribusi yang vital, yang ternyata tetap bertahan meski diguncang gempa besar.
Artikel Terkait
ERT NHM Diterjunkan Bantu Evakuasi Korban Erupsi Gunung Dukono, Tiga Pendaki Dinyatakan Meninggal
Menteri Perdagangan Optimis Ekspor Nonmigas Tumbuh 0,98 Persen di Tengah Tekanan Global
Kapal Bantuan Gaza Dicegat, Relawan As’ad Aras Kisahkan Detik-Detik Mencekam di Laut
Warga Korea Selatan Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumahnya di Bekasi, Polisi Duga Korban Dibunuh