Menteri Perdagangan Optimis Ekspor Nonmigas Tumbuh 0,98 Persen di Tengah Tekanan Global

- Kamis, 28 Mei 2026 | 21:00 WIB
Menteri Perdagangan Optimis Ekspor Nonmigas Tumbuh 0,98 Persen di Tengah Tekanan Global

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan optimisme terhadap masa depan sektor perdagangan nasional di tengah gejolak ekonomi global, dengan menunjuk pada catatan positif kinerja ekspor nonmigas pada awal tahun ini sebagai bukti bahwa peluang pertumbuhan masih terbuka lebar.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Perdagangan, ekspor nonmigas Indonesia pada periode Januari hingga Maret 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 0,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini, menurut Budi, menjadi indikasi bahwa Indonesia tetap mampu tumbuh positif meskipun menghadapi tekanan dari kondisi perdagangan dunia yang menantang.

“Indonesia tetap berpeluang untuk terus meningkatkan perdagangan di tengah kondisi perdagangan global yang menantang. Kalau kita lihat, pertumbuhan ekspor nonmigas kita pada Januari Maret 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu tumbuh 0,98 persen. Jadi, sebetulnya kita masih bisa tetap tumbuh positif,” ujar Budi dalam keterangan resmi, Kamis (28/5/2026).

Untuk mengakselerasi performa perdagangan nasional, pemerintah mengandalkan tiga program utama. Pertama, Pengamanan Pasar Dalam Negeri, yang bertujuan memastikan produk lokal mampu mendominasi pasar domestik dengan meningkatkan daya saing guna menekan ketergantungan pada barang impor. Dalam kerangka ini, pemerintah juga mengoptimalkan instrumen trade remedies seperti anti-dumping dan safeguard sebagai langkah perlindungan bagi industri dalam negeri.

“Kami ingin pasar kita yang besar diisi produk lokal. Kuncinya, produk harus berdaya saing. Kalau kita sudah memiliki produk dalam negeri yang bagus, kita tidak perlu impor,” kata Budi.

Program kedua adalah Perluasan Pasar Ekspor. Kementerian Perdagangan aktif membuka akses produk Indonesia ke kancah global melalui berbagai kesepakatan internasional. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 20 perjanjian dagang telah diimplementasikan, 15 perjanjian dalam tahap ratifikasi, dan 11 perjanjian lainnya masih dalam proses negosiasi. Budi juga menyoroti upaya strategis dalam mempertahankan stabilitas ekspor ke Amerika Serikat melalui skema Agreement Reciprocal Tariff.

Sementara itu, program ketiga yang diberi nama Dari Lokal untuk Global dirancang untuk mendorong pelaku usaha lokal, termasuk sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta pengusaha desa, agar mampu menembus pasar internasional sebagai eksportir. Program ini dibagi menjadi empat klaster strategis, salah satunya adalah UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor yang memberikan fasilitasi kepada pelaku usaha melalui dukungan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara.

“Kami ingin agar ekspor tidak hanya dari perusahaan besar, tetapi juga perusahaan kecil. Kami tugaskan perwakilan perdagangan RI untuk membantu pelaku usaha kita. Silakan menghubungi para perwakilan perdagangan untuk mendapat pendampingan ke pasar ekspor yang dituju,” papar Budi.

Sepanjang tahun 2025, inisiatif UMKM BISA Ekspor telah sukses memfasilitasi kegiatan business matching bagi 1.217 pelaku usaha dengan total transaksi mencapai 134,87 juta dolar AS. Tren positif ini berlanjut pada periode Januari hingga April 2026 dengan nilai transaksi sebesar 107,34 juta dolar AS, di mana 70 persen pelakunya merupakan eksportir baru yang belum pernah melakukan ekspor sebelumnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar