Relawan kemanusiaan untuk Gaza, As’ad Aras, menceritakan pengalaman mencekam saat kapal bantuan yang ditumpanginya dicegat dalam pelayaran menuju wilayah kantong Palestina tersebut. Misi yang awalnya dijadwalkan tiba dalam enam hari itu harus terhenti ketika intersepsi terjadi, hanya berselang sehari sebelum kapal mencapai tujuan akhir.
Menurut As’ad, saat insiden berlangsung, posisi kapal diperkirakan hanya sekitar 130 mil laut dari pantai Gaza. Sebelumnya, kapal sempat berencana menepi sementara di dekat Pelabuhan Mesir karena adanya potensi badai di jalur pelayaran. Namun, sebelum rencana tersebut dapat dilaksanakan, pencegatan justru lebih dulu terjadi.
Tanda-tanda akan adanya intersepsi, kata As’ad, sebenarnya sudah mulai terlihat sejak malam hari. Para relawan kemudian diminta mematikan lampu kapal dan telepon genggam untuk mengurangi kemungkinan terpantau. Ketegangan mencapai puncaknya sekitar pukul 15.00 waktu setempat, ketika sebuah kapal patroli dan dua speedboat mulai mendekat ke arah kapal relawan.
Dalam situasi yang semakin genting itu, seluruh awak kapal diminta bersiap dengan mengenakan life jacket sesuai prosedur keamanan. Di tengah tekanan, As’ad mengungkapkan bahwa kapten kapal justru memberikan instruksi yang tak terduga: meminta seluruh awak tetap makan.
Meskipun berada dalam situasi yang mencekam, para relawan disebut tidak menunjukkan kepanikan. Sebaliknya, mereka justru masih sempat meneriakkan yel-yel dukungan untuk Palestina sebagai bentuk solidaritas di tengah tekanan yang dihadapi.
Artikel Terkait
Prabowo Apresiasi Prancis sebagai Pelopor Solusi Dua Negara untuk Palestina
Iduladha Dorong Rantai Pasok Ekonomi Kerakyatan, Danareksa: Peternak Hingga Sopir Truk Ikut Terdampak
Prabowo Instruksikan Bahasa Prancis Masuk Kurikulum Sekolah di Indonesia
ASN di PPU Ditangkap Polisi Usai Cabuli Anak Tetangga yang Masih Berusia 10 Tahun