Dunia sepak bola Italia lagi-lagi diguncang berita pilu. Setelah gagal melangkah ke Piala Dunia 2026, tiga pilar utama tim nasional memilih angkat kaki. Mereka adalah pelatih Gennaro Gattuso, kepala delegasi Gianluigi Buffon, dan sang presiden federasi sendiri, Gabriele Gravina. Pengunduran diri mereka diumumkan secara resmi oleh FIGC, Federasi Sepak Bola Italia, sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Rasanya seperti deja vu yang menyakitkan. Publik Italia masih hangat merayakan gelar juara Eropa 2020, tapi kini harus menelan kenyataan pahit: mereka akan absen lagi di panggung Piala Dunia. Kegagalan beruntun ini bukan cuma memalukan, tapi membuka luka lama yang belum sembuh benar. Kritik pun mengalir deras, menuding ada yang salah fundamental dalam sistem, mulai dari pembinaan, strategi, hingga kepemimpinan di tingkat atas.
Masing-masing dari trio ini punya catatan dan beban tanggung jawabnya sendiri.
Ambil contoh Gennaro Gattuso. Sebagai pelatih, ia dinilai gagal memberikan stabilitas. Taktiknya terkesan plin-plan, dan di pertandingan-pertandingan krusial, tim justru tampak kehilangan arah.
Lalu ada Gianluigi Buffon. Meski statusnya sebagai legenda hidup tak terbantahkan, perannya sebagai kepala delegasi turut dipertanyakan. Dia dihormati, ya. Tapi dalam kegagalan kolektif seperti ini, semua pihak harus bertanggung jawab.
Artikel Terkait
Noussair Mazraoui Buka Suara: Pensiun dari Sepak Bola untuk Fokus Jadi Imam dan Hafiz Quran
BPPTKG: Aktivitas Vulkanik Merapi Masih Tinggi, Status Siaga Dipertahankan
PSSI Tegaskan Semua Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Sah Secara Hukum
LavAni Tundukkan Garuda Jaya 3-0 di Final Four Proliga Surabaya