Duka itu datang berlapis bagi keluarga almarhum Warsono di Desa Mintobasuki, Pati. Kamis lalu, saat mereka seharusnya bisa berkabung dengan tenang, banjir justru memaksa mereka berjuang untuk sekadar memberi penghormatan terakhir. Aktivitas warga lumpuh total oleh genangan air yang tak kunjung surut.
Kekhawatiran sempat menghantui. Bagaimana mungkin menguburkan jenazah di tengah situasi seperti ini? Ternyata, masih ada secercah harapan: sebuah petak di pemakaman desa yang belum sepenuhnya terendam. Memang, lokasinya terpisah dari liang keluarga, tapi setidaknya itu sebuah solusi.
Namun begitu, perjalanan menuju sana bukan perkara mudah. Jalan desa sudah berubah jadi sungai, dengan ketinggian air mencapai paha orang dewasa. Butuh perjuangan fisik yang luar biasa. Akhirnya, dengan perahu kayu, mereka mengarungi banjir sejauh dua kilometer untuk mengantarkan Warsono ke peristirahatan terakhirnya.
Rekaman CCTV desa merekam momen pilu itu. Sebuah perahu melaju pelan, nyaris tanpa suara, di antara hamparan air keruh. Di atasnya, terlihat keranda jenazah yang diselimuti terpal biru, tampak sederhana namun mengharukan.
Beberapa keluarga duduk memayungi jenazah, melindunginya dari rintik hujan yang masih sesekali turun. Sementara itu, di dalam air, sejumlah warga rela berjalan kaki mendorong perahu itu. Langkah mereka berat, tapi penuh keteguhan.
Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, menjelaskan situasi saat itu. Rencana awal menggunakan mobil jenazah batal karena kendaraan tersebut sedang bertugas di lokasi lain.
"Tadi kontak mobil jenazah ternyata sedang dipakai. Akhirnya pihak keluarga dan masyarakat sepakat diantar melalui perahu," ujarnya via telepon, Kamis (15/1).
Menurutnya, jalur menuju makam yang biasa melalui sawah pun sudah terendam semua. "Jadi justru memungkinkan untuk dilewati perahu," tambahnya. Di sisi lain, pihak desa memastikan masih ada titik tanah yang cukup tinggi untuk proses pemakaman, meski sekelilingnya sudah mulai kebanjiran.
Banjir ini sendiri sudah melanda sejak Sabtu sebelumnya, akibat luapan Sungai Silugonggo. Data yang dihimpun pemerintah desa cukup memprihatinkan: 241 rumah terendam, yang berdampak pada sekitar 800 jiwa dari 313 kepala keluarga.
"Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter. Sementara di jalan raya, ketinggiannya mencapai 5 hingga 90 sentimeter. Sepeda motor kecil sudah tidak bisa melintas," jelas Mustaji.
Kerugian tak cuma dirasakan di permukiman. Lahan pertanian jadi korban berikutnya. Enam hektare padi muda dan 65 hektare padi yang siap panen ikut terendam, dengan taksiran kerugian petani mencapai Rp 515 juta. Sungguh pukulan telak.
Masalah kesehatan pun mulai muncul. Warga mengeluhkan gatal-gatal, namun posko kesehatan belum juga terbentuk. Bantuan logistik pun masih sangat terbatas.
"Untuk bantuan, kemarin baru ada kiriman mi instan dari Kemenag Pati. Dari donatur mungkin memang bantuannya terbagi-bagi karena banjir ini memang merata (di seluruh Pati)," tandas Mustaji.
Di balik upaya penguburan yang heroik itu, terpampang jelas betapa warga harus bertahan di tengah kesulitan yang bertumpuk. Mereka berjuang bukan hanya melawan air, tetapi juga menahan beban ekonomi dan ketidakpastian bantuan yang datang serba lambat.
Artikel Terkait
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah
PN Jakarta Pusat Tolak Eksepsi Mardiono, Perkara Muktamar PPP Lanjut ke Pemeriksaan Bukti