Menurutnya, jalur menuju makam yang biasa melalui sawah pun sudah terendam semua. "Jadi justru memungkinkan untuk dilewati perahu," tambahnya. Di sisi lain, pihak desa memastikan masih ada titik tanah yang cukup tinggi untuk proses pemakaman, meski sekelilingnya sudah mulai kebanjiran.
Banjir ini sendiri sudah melanda sejak Sabtu sebelumnya, akibat luapan Sungai Silugonggo. Data yang dihimpun pemerintah desa cukup memprihatinkan: 241 rumah terendam, yang berdampak pada sekitar 800 jiwa dari 313 kepala keluarga.
Kerugian tak cuma dirasakan di permukiman. Lahan pertanian jadi korban berikutnya. Enam hektare padi muda dan 65 hektare padi yang siap panen ikut terendam, dengan taksiran kerugian petani mencapai Rp 515 juta. Sungguh pukulan telak.
Masalah kesehatan pun mulai muncul. Warga mengeluhkan gatal-gatal, namun posko kesehatan belum juga terbentuk. Bantuan logistik pun masih sangat terbatas.
Di balik upaya penguburan yang heroik itu, terpampang jelas betapa warga harus bertahan di tengah kesulitan yang bertumpuk. Mereka berjuang bukan hanya melawan air, tetapi juga menahan beban ekonomi dan ketidakpastian bantuan yang datang serba lambat.
Artikel Terkait
Parkir Darurat Banjir Dihargai Rp1,5 Juta, Mobil Tetap Terendam
23 Desa di Kendal Terendam, Ribuan Rumah Tergenang Banjir
Ketika Mesin Pintar, Apakah Kita Masih Benar-Benar Belajar?
Video Pengeroyokan Picu Dua Laporan Hukum di SMKN 3 Berbak