Ketika Mesin Pintar, Apakah Kita Masih Benar-Benar Belajar?

- Jumat, 16 Januari 2026 | 21:06 WIB
Ketika Mesin Pintar, Apakah Kita Masih Benar-Benar Belajar?

Di era di mana mesin bisa mengerjakan segalanya dengan cepat menjawab soal, menulis esai, menghitung angka tanpa cela ada satu pertanyaan yang mulai menggelitik. Apakah kita, sebagai manusia, masih benar-benar belajar? Atau jangan-jangan, kita cuma menyalin kecerdasan yang sudah jadi?

Kecepatan kini jadi ukuran segalanya. Tugas dinilai dari cepat lambatnya selesai, bukan dari kedalaman pemahaman. Lihat saja di kelas-kelas. Diskusi jadi singkat, sementara Google jadi tempat bertanya pertama dan terakhir. Memang ironis. Justru ketika teknologi menawarkan kemudahan tanpa batas, di situlah proses berpikir kita paling terancam.

Padahal, belajar yang sesungguhnya bukan cuma soal nemuin jawaban. Lebih dari itu, ini tentang perjuangan memahami pertanyaan itu sendiri. Sayangnya, banyak siswa dan mahasiswa sekarang terjebak ilusi. Mereka merasa pintar karena informasi ada di ujung jari, tapi belum tentu sanggup mengolahnya. Mesin bisa kasih jawaban, tapi ia tak punya kebijaksanaan. Teknologi menyediakan data mentah, bukan makna.

Nah, di titik inilah pendidikan berada di persimpangan. Kalau sekolah dan kampus cuma jadi tempat bagi-bagi informasi, ya jelas kalah cepat sama algoritma. Tapi, kalau kita berani balik ke hakikat pendidikan sebagai ruang untuk membentuk nalar dan etika, teknologi justru bisa jadi sekutu yang powerful.

Masalahnya, sistem kita sekarang masih terlalu ribet dengan urusan administratif. Kurikulum padat, penilaian serba angka, standar yang kaku. Realitas peserta didik yang manusiawi dengan ritme dan caranya sendiri sering keabaikan. Akhirnya, mahasiswa dinilai dari IPK, bukan dari cara berpikirnya. Dosen sibuk dengan laporan, bukan dengan pengaruh yang dia tinggalkan di pikiran mahasiswanya. Di atas kertas, semuanya rapi. Tapi di dalam kepala? Bisa jadi kosong.


Halaman:

Komentar