Mari Elka Pangestu Peringatkan Dampak Konflik AS-Israel-Iran ke Ekonomi Indonesia

- Selasa, 03 Maret 2026 | 01:30 WIB
Mari Elka Pangestu Peringatkan Dampak Konflik AS-Israel-Iran ke Ekonomi Indonesia

Senin pagi (2/3/2026) lalu, ruang diskusi di Jakarta Selatan terasa cukup tegang. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, tak sekadar membahas angka-angka. Ia mewanti-wanti ancaman riil yang bisa menghantam perekonomian kita, semua bermula dari konflik bersenjata yang memanas antara AS-Israel dan Iran. Dampaknya? Bisa berantai. Mulai dari inflasi yang melonjak, rupiah yang melemah, sampai modal asing yang kabur keluar negeri.

“Kalau kita berpikir mengenai dampak harga minyak (akibat konflik), memang paling kelihatan nanti inflasi,” ujar Mari.

Ia melanjutkan, “Dan kalau inflasi naik kan berarti suku bunga akan sulit untuk diturunkan.”

Logikanya sederhana tapi mengkhawatirkan. Harga minyak dunia yang meroket bakal langsung memukul moneter Indonesia. Rupiah otomatis tertekan. Belum lagi capital outflow pemilik modal pasti akan mencari tempat yang lebih aman untuk asetnya jika eskalasi konflik kian menjadi. Situasi ini memaksa kita untuk bersiap.

Di sisi lain, Mari menekankan pentingnya mitigasi risiko. Pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, harus disiplin dalam kebijakan fiskal. Tujuannya jelas: menjaga fundamental ekonomi agar tetap solid. Stimulus ekonomi pun perlu terus didorong sebagai belanja fiskal yang efektif, setidaknya untuk mengerek daya beli masyarakat yang mungkin terpukul.

Lalu, bagaimana dengan pasar ekspor? Menurut Mari, diversifikasi adalah kuncinya. Jika Timur Tengah terus bergejolak tanpa kepastian, maka kita harus geser pasar ke wilayah lain. Eropa bisa jadi opsi.

Tapi yang tak boleh dilupakan justru yang dekat dengan kita.

“Jangan lupa ASEAN, jangan lupa yang di depan mata kita, yaitu pasar di kawasan kita sendiri,” kata dia.

“ASEAN punya perjanjian namanya RCEP yang ada China, Jepang, Korea, Australia, New Zealand. Ini semua bisa, sangat bisa kita juga manfaatkan untuk eh meningkatkan pasar kita,” tambahnya.

Namun begitu, ada satu hal yang ia titikberatkan: pasar dalam negeri. Penguatan pangsa domestik ini krusial. Jika industri bisa menguasai pasar lokal, profitabilitas akan datang. Efek gandanya bisa menopang pertumbuhan ekonomi secara lebih luas. Dari situ, nilai investasi bakal mengikuti dengan sendirinya.

“Amankan pasar dalam negeri maupun demand,” tegas Mari.

“Di dalam ketidakpastian, banyak yang mencari relokasi. Nah, di sinilah pentingnya PR dalam negeri kita juga untuk membuat Indonesia menarik untuk dunia investasi. Apakah itu untuk investasi portofolio, tapi yang penting juga untuk PMA. Karena itu akan menciptakan lapangan pekerjaan dan itu akan juga mendorong perekonomian.”

Peringatannya ini bukan tanpa alasan. Pada sesi perdagangan hari itu juga, rupiah tercatat melemah 0,27 persen ke level Rp16.823 per dolar AS. Tren ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang tertekan oleh dolar yang perkasa. Gejolak di Timur Tengah, ditambah langkah Iran menutup arus di Selat Hormuz, benar-benar mengancam stabilitas pasokan energi global.

Buktinya, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk suplai April 2026 sudah melonjak 7,10 persen ke level USD71,78 per barel. Pemerintah pun mulai menyoroti tekanan fiskal yang mungkin timbul jika inflasi harga energi benar-benar terjadi. Situasinya memang rumit, tapi kesiapan adalah satu-satunya jalan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar