Rano Karno Tinjau Kebakaran Kemayoran, 679 Jiwa Terdampak dan 304 Bangunan Ludes

- Selasa, 02 Juni 2026 | 22:45 WIB
Rano Karno Tinjau Kebakaran Kemayoran, 679 Jiwa Terdampak dan 304 Bangunan Ludes

Ribuan jiwa terpaksa mengungsi setelah si jago merah melalap habis permukiman padat penduduk di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin malam lalu. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang meninjau langsung lokasi kebakaran di Kelurahan Kebon Kosong pada Selasa, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menghanguskan ratusan bangunan milik warga tersebut.

Dalam kunjungannya, Rano Karno mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap instalasi listrik di lingkungan tempat tinggal. Berdasarkan hasil survei, hampir rata-rata kebakaran yang terjadi di Jakarta dipicu oleh korsleting listrik. Penggunaan listrik yang berlebihan dalam satu stopkontak menjadi salah satu faktor utama yang kerap memicu kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat penduduk.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan posko pengungsian yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Posko tersebut menyediakan layanan kesehatan, dapur umum, serta dukungan psikologis bagi warga yang terdampak, khususnya anak-anak. Sementara itu, sebanyak 26 unit mobil pemadam kebakaran dengan 87 personel diterjunkan untuk menjinakkan kobaran api. Berdasarkan data sementara, kebakaran berdampak pada 304 bangunan dan 354 kepala keluarga, dengan total 679 jiwa terdampak.

Di sisi lain, Rano Karno juga menawarkan warga korban kebakaran untuk pindah ke rumah susun. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup warga yang selama ini tinggal di permukiman kumuh dan rawan bencana.

"Tadi sambil lalu saya ngomong dengan beberapa warga, enggak mau coba di rumah susun? 'Aduh, Bang, kita lahir di sini, Bang. Bahkan yang namanya apa, ari-ari kita ditanam di sini'," ujar Rano Karno menirukan keluhan warga.

"Saya bilang, 'Eh, saya lahir di Kemayoran, di Kebon Kosong. Ari-ari saya juga saya tanam di Kemayoran. Masa kita mesti sebujak-bujak tinggal di sini?'. Kita selalu berusaha untuk menyadarkan masyarakat bahwa bukan berarti tidak layak, tapi mungkin kalau tinggal di rumah susun jauh lebih layak," lanjutnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini