Malam Minggu kemarin, suasana di Masjid Salman ITB terasa berbeda. Bukan hanya karena ibadah tarawih, tapi juga karena kehadiran Mahfud MD. Pakar hukum tata negara itu hadir memberi ceramah, dan sesi tanya jawabnya justru mengalir ke pembahasan yang cukup menarik: soal fiqh.
Menurut Mahfud, fiqh pada dasarnya adalah produk pemikiran manusia. Hasil ijtihad, atau memeras otak, untuk mencari maksud-maksud hukum yang selaras dengan Alquran dan sunnah.
"Fiqh itu produk pemikiran, ijtihad, produk pemikiran otak," jelasnya dengan nada khas yang tenang namun tegas.
"Memeras otak untuk mencari maksud-maksud hukum sesuai Alquran dan sesuai sunnah. Makanya, wajar kalau tafsirnya bisa beda-beda di tiap daerah, negara, atau zaman."
Ia lalu memberi contoh nyata. Ambil soal tayamum. Ada ulama yang menafsirkan, tayamum baru boleh dilakukan jika kita sedang dalam perjalanan jauh, minimal 81 kilometer. Tapi, di sisi lain, ada juga penafsiran yang lebih longgar: setiap keluar rumah sudah boleh bertayamum.
Contoh lain adalah definisi musafir. Untuk sebagian orang, musafir adalah mereka yang telah melewati batas desa. Namun begitu, tak sedikit yang berpendapat bahwa pergi ke tempat kerja sehari-hari pun sudah bisa dikategorikan musafir.
"Tidak ada yang salah karena tafsir. Hukum yang bentuknya fiqh itu ditafsirkan oleh 3 situasi: waktunya, tempatnya, budayanya."
Nah, terkait budaya, Mahfud menyoroti satu hal yang akrab di bulan Ramadhan kita: imsak. Banyak orang mengira imsak adalah waktu berhenti makan sahur. Padahal, tegas Mahfud, konsep imsak ini sebenarnya cuma dikenal di Asia Tenggara. Dalam hukum Islam fikih, ia tak ditemukan.
"Tapi, apakah itu boleh? Boleh. Bagus juga, kan, fungsinya mengingatkan orang untuk makan sebelum subuh," ujarnya.
"Kalau setelah imsak orang masih mau makan, ya tidak apa-apa."
Bahkan, ia mengajak kita melihat sejarah. Nabi Muhammad SAW pernah melarang Bilal untuk segera adzan subuh. Kenapa? Karena saat itu masih ada orang yang sedang menyantap sahurnya. Bagi Mahfud, momen kecil ini menunjukkan betapa tolerannya Rasulullah dalam praktik ibadah.
Ia juga berbagi pengamatan. Siapa yang pernah ke Mekkah, pasti tahu. Di sana tak pernah ada pengumuman waktu imsak. Justru, karena banyaknya tafsir, ada saja orang yang baru mulai makan sahur tepat saat adzan subuh berkumandang, dan berhenti ketika adzan itu selesai.
Pemandangan di tanah suci itu, katanya, adalah gambaran sempurna.
"Coba lihat di Mekkah. Macam-macam orang dari berbagai penjuru dunia menafsirkan ajaran Islam dalam fiqhnya berdasar kebutuhannya masing-masing," papar Mahfud.
"Oleh sebab itu, jangan terlalu fanatik. Yang penting hatinya. Niatnya untuk beragama dengan sungguh-sungguh. Itu kuncinya."
Artikel Terkait
Nottingham Forest Kandaskan Porto, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Aston Villa Hancurkan Bologna 4-0, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi