Yang lebih mencemaskan, ketergantungan ini mulai dinormalisasi. Setiap ada kesulitan, tinggal “serahkan” pada alat. Daya tahan intelektual kita pun melemah. Padahal, hidup di dunia nyata nggak sesimpel itu. Dunia nyata menuntut penalaran, pertimbangan moral, dan keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Hal-hal semacam ini nggak akan pernah bisa digantikan oleh AI, secanggih apapun itu.
Saya bukan anti-teknologi, ya. Justru sebaliknya. Ini ajakan untuk ambil kembali kendali. Teknologi harusnya memperluas kemampuan berpikir kita, bukan mengambil alihnya. Pendidikan harusnya ngajarin cara bertanya yang baik, bukan cuma cara nemuin jawaban tercepat.
Di tengah dunia yang semakin pintar secara teknis, kita justru butuh manusia yang semakin bijak. Karena tanpa kebijaksanaan, kecerdasan cuma jadi alat tanpa arah. Tanpa nilai.
Mungkin, sudah waktunya kita geser pertanyaannya. Jangan lagi, “Seberapa canggih teknologi kita?”
Tapi mulailah bertanya, “Seberapa dalam kita masih mau belajar?”
Artikel Terkait
Parkir Darurat Banjir Dihargai Rp1,5 Juta, Mobil Tetap Terendam
23 Desa di Kendal Terendam, Ribuan Rumah Tergenang Banjir
Video Pengeroyokan Picu Dua Laporan Hukum di SMKN 3 Berbak
ETLE Genggam Resmi Beraksi, Pelanggar Lalin Jakarta Waspada