Jakarta - Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (FN Pordasi) punya agenda besar. Mereka bakal menggencarkan sosialisasi dan kompetisi di empat cabangnya. Tujuannya jelas: membangun ekosistem berkuda yang inklusif dan berkesinambungan. Keempat federasi itu adalah FN Pordasi Pacu, Equestrian, Polo, dan Berkuda Memanah.
Nah, khusus untuk Berkuda Memanah, ada upaya transformasi menarik. Cabang ini mencoba memadukan tradisi dan warisan budaya dengan pendekatan prestasi modern. Jadi, bukan cuma soal lomba, tapi juga melestarikan sejarah.
“Berkuda memanah ini unik,” kata Sekjen FN Pordasi Berkuda Memanah, Luthfi Syaifullah Zubir, lewat keterangan resminya, Senin.
“Ia menyatukan nilai historis dan pembinaan prestasi dalam satu kesatuan. Perkembangannya di Indonesia sendiri cukup signifikan. Kita sudah punya 17 provinsi sebagai anggota, dan itu mungkin akan bertambah,” jelasnya.
Di sisi lain, federasi ini juga serius menyiapkan standar kuda ideal. Mereka berupaya menggencarkan penggunaan kuda lokal di setiap kompetisi. Soal agenda, sejumlah turnamen besar sudah masuk kalender 2026. Ada Liga Santri Indonesia yang bakal digelar di Jawa Tengah, Bali, dan Banten. Lalu ada Kejurnas III di Jakarta dan Jawa Barat. Yang paling bergengsi, Asian Horseback Archery Championship dijadwalkan pada Oktober 2026.
Sementara itu, federasi lain juga punya fokus masing-masing. FN Pordasi Pacu, misalnya, bertekad menghidupkan industri peternakan dan ekonomi kerakyatan. Lihat saja euforia di Takengon, Aceh Tengah, saat PON XXI. Sekitar 120.000 penonton memadati lokasi pacuan kuda, sebuah bukti antusiasme yang luar biasa.
Lalu, bagaimana dengan FN Pordasi Equestrian? Fokus mereka adalah memperkuat sistem pembinaan dan profesionalisme organisasi. Saat ini, sudah ada 13 Pengurus Provinsi yang aktif menjalankan program. Ketua Umumnya, Dewi Larasati, menekankan satu hal penting.
“Di dalam olahraga ini, manusia dan kuda, dua-duanya adalah atlet. Jadi keduanya harus dipersiapkan secara maksimal melalui latihan yang intensif dan berkelanjutan,” ujar Dewi.
Tak ketinggalan, FN Pordasi Polo Indonesia. Komitmen mereka lebih luas lagi. Tak cuma berorientasi pada prestasi, tapi juga membangun ekosistem menyeluruh. Mulai dari pembinaan atlet, penguatan kualitas kuda lokal, sampai pengembangan industri pendukung yang terintegrasi dengan pariwisata.
Semua langkah ini adalah bagian dari transformasi besar Pordasi. Setelah Munas XIV pada November 2024 lalu, struktur organisasi mereka berubah. Kini, dengan empat federasi nasional yang saling terkait, mereka fokus membangun ekosistem yang benar-benar berkesinambungan. Jalan masih panjang, tapi langkah awalnya sudah terlihat.
Artikel Terkait
JPPI Soroti Sistem Feodal dan Lemahnya Satgas PPKS sebagai Akar Pelecehan Seksual di Kampus
Pemprov DKI Siapkan Mitigasi Pasokan Pangan dan Energi Hadapi Ancaman El Nino
Polisi Amankan 32 Ribu Butir Obat Terlarang dan Lima Pelaku di Sawah Besar
Vitor Baia Kagumi Antusiasme Fans dan Fasilitas GBK Usai Clash of Legends