ICC Jakarta Gelar Tahlil, Duka Mendalam atas Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

- Senin, 02 Maret 2026 | 00:15 WIB
ICC Jakarta Gelar Tahlil, Duka Mendalam atas Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

Suasana di Islamic Cultural Center Jakarta, Minggu (1/3/2026) itu, terasa berat. Dalam acara yang digelar sebagai 'Majelis Tahlil Syahid Sayid Ali Khamenei', duka menyelimuti ruangan. Direktur ICC, Prof. Dr. Mohammad Sharifani, tampil menyampaikan ucapan belasungkawa yang mendalam.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” ujarnya, membuka sambutan. Suaranya terdengar parau. “Kepergian seorang alim selalu meninggalkan lubang dalam Islam. Lubang yang takkan pernah bisa ditutup oleh siapapun.”

Belasungkawa itu dia sampaikan bukan hanya untuk kalangan terdekat, melainkan untuk semua yang hadir dan kaum muslimin secara luas. “Khususnya untuk para pecinta jalan kebenaran,” lanjut Sharifani. “Semoga Allah terima ucapan kita.”

Menurutnya, apa yang terjadi adalah pukulan telak. Peristiwa menyedihkan bagi jutaan umat manusia di berbagai penjuru. “Apa yang menimpa Rahbar, Imam Ali Khamenei, adalah duka yang mendalam,” jelasnya. Lebih menyayat lagi, musibah ini terjadi di bulan suci Ramadan, saat jutaan orang menangisi kepergiannya sambil memanjatkan doa.

“Hari-hari ini di Iran adalah hari-hari yang sangat berat,” ungkap Sharifani, menggambarkan situasi terkini. Baginya, ini adalah momen penentuan bagi perjalanan revolusi Islam Iran. Bahkan, mungkin situasi tersulit yang pernah mereka hadapi sejak revolusi bergulir.

Dia menegaskan, sang pemimpin yang gugur itu bukan sekadar figur politik. “Syahid Sayid Ali Khamenei adalah sosok yang mewakili front kebenaran. Pejuang yang berdiri melawan front kebatilan,” ucapnya. Gugurnya Khamenei, dengan demikian, lebih dari sekadar berita kematian biasa.

Peristiwa yang memicu duka ini berawal dari sebuah operasi militer besar-besaran. Israel dan Amerika Serikat memulainya pada Sabtu, 28 Februari. Sasaran mereka luas: fasilitas komando Garda Revolusi, lokasi peluncuran rudal dan drone, hingga pangkalan udara dan sistem pertahanan.

Dampaknya sungguh mengerikan. Laporan awal dari Bulan Sabit Merah Iran menyebut lebih dari 200 orang tewas. Hampir 750 lainnya luka-luka. Serangan itu begitu masif, hingga menghantam 24 dari 31 provinsi di negara tersebut.

Ada satu laporan yang masih diselidiki oleh Centcom AS, dan membuat dunia internasional bergidik: sebuah sekolah perempuan di Iran selatan konon juga terkena serangan. Pejabat setempat menyebut insiden itu merenggut nyawa lebih dari 100 siswi. Detailnya masih simpang siur.

Di sisi lain, Angkatan Udara Israel mengklaim telah melancarkan serangan udara terbesar dalam sejarah mereka. Lebih dari 200 jet dikerahkan untuk menghantam pangkalan rudal Iran dan markas IRGC. IDF menyatakan telah menyerang lebih dari 500 target, melumpuhkan sistem pertahanan di Iran bagian barat dan tengah.

Dari serangan gabungan yang dahsyat itulah, sejumlah petinggi Iran dilaporkan tewas. Dan nama yang paling menonjol di antara korban itu adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebuah akhir yang dramatis, yang kini mengubah peta politik Timur Tengah untuk selamanya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar