Pasar modal kita lagi panas. IHSG pagi tadi bahkan sempat nyentuh rekor baru, menembus level 9.002. Nah, di tengah euforia ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara. Ia menilai rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) itu bukan sekadar wacana teknis, lho. Bagi dia, langkah itu justru cermin dari satu hal: kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang makin menguat.
Menurut Purbaya, para investor itu kan sifatnya progresif. Mereka melihat ke depan. Jadi, derasnya aliran modal yang masuk selama tiga bulan terakhir ini bukan tanpa alasan. Itu sinyal kuat. Ada pembalikan sentimen, baik dari pelaku domestik maupun global, terhadap prospek ekonomi kita ke depannya.
"Jadi ya itu nunjukin bahwa ada perbalikan sentimen investor domestik maupun global terhadap perekonomian Indonesia yang ke depan kita harus jaga terus," ujar Purbaya usai konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1/2026).
Dia lalu menambahkan dengan nada optimis, "Jadi kalau gitu mah tahun ini 10.000 enggak susah-susah amat."
Tapi Purbaya juga realistis. Retorika pemerintah saja tidak akan cukup untuk menggerakkan pasar. Semua omongan harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Dia mengakui bahwa implementasi kebijakan saat ini mungkin belum sempurna, tapi setidaknya sudah memberikan sinyal positif. Sinyal itulah yang dilihat pasar dan akhirnya mendongkrak kepercayaan serta profitabilitas perusahaan-perusahaan di bursa.
"Kalau mereka enggak percaya ke langkah-langkah kita walaupun saya ngomong sampai berbusa, bursa tetap saja jatuh, investor enggak akan masuk," katanya.
"Tapi ketika mereka lihat ada implementasi yang nyata, walaupun enggak sempurna ya, kelihatannya ke depan akan baik."
Lalu, bagaimana dengan wacana demutualisasi bursa itu sendiri? Apakah tahun ini saham BEI sudah bisa dibeli publik? Purbaya dengan lugas mengembalikan kewenangan teknisnya ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, dia menyelipkan catatan kritis yang cukup tajam.
Baginya, sebelum bicara soal perubahan status, kebersihan pasar modal harus jadi prioritas. Praktik-praktik manipulasi harga harus dibereskan lebih dulu agar prosesnya berjalan sehat.
"Saya belum tahu, Anda bisa tanya ke OJK. Kalau pandangan saya sih beresin dulu tukang goreng-goreng itu baru demutualisasi," tegas Purbaya.
Optimisme Menkeu ini punya dasarnya. Sebelumnya, dalam konferensi pers yang sama, disebutkan bahwa strategi fiskal pemerintah berhasil menjaga momentum pertumbuhan di angka 5,2 persen di tengah tekanan pendapatan negara. Stabilitas makro inilah yang jadi pijakan. Dengan fondasi itu, target IHSG 10.000 di tahun 2026 bukan lagi mimpi di siang bolong, tapi sesuatu yang benar-benar bisa dikejar.
Artikel Terkait
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong
ASLC Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Andalkan Mobil Bekas Jelang Mudik 2026
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil