Donald Trump punya ucapan terima kasih yang cukup mengejutkan. Presiden Amerika Serikat itu menyampaikannya langsung kepada Iran. Alasannya? Karena ratusan demonstran yang ditangkap dalam gelombang protes terbaru, ternyata tidak jadi dieksekusi mati. Menurut Trump, Teheran membatalkan rencana hukuman gantung yang sempat mengancam lebih dari 800 orang.
Lewat unggahan di Truth Social, Jumat lalu, Trump tak ragu menunjukkan apresiasinya.
"Saya sangat menghargai fakta bahwa semua eksekusi gantung yang dijadwalkan, yang seharusnya berlangsung kemarin (lebih dari 800 orang), telah dibatalkan oleh kepemimpinan Iran. Terima kasih!," tulisnya.
Sebelumnya, situasi memang terasa mencekam. Otoritas kehakiman Iran, lewat pernyataan Gholamhossein Mohseni-Ejei, sempat mengisyaratkan persidangan cepat dan eksekusi bagi para pendemo. Peringatan Trump pun seperti diabaikan.
Dalam pernyataan via video yang beredar, Rabu lalu, Mohseni-Ejei bersikeras soal urgensi waktu.
"Jika kita ingin melakukan suatu pekerjaan, kita harus melakukannya sekarang. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat," cetusnya.
Dia menambahkan, "Jika terlambat, dua bulan, tiga bulan kemudian, itu tidak akan memiliki efek yang sama. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat."
Namun begitu, angin sepertinya berubah. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, muncul dengan penjelasan yang berbeda. Dalam wawancara dengan Fox News, Kamis malam, dia dengan tegas membantah rencana itu.
"Saya dapat memberi tahu Anda, saya yakin bahwa tidak ada rencana untuk hukuman gantung," kata Araghchi.
Dia memastikan tidak akan ada pendemo yang dihukum gantung hari itu atau keesokannya. Menurutnya, sepuluh hari demonstrasi damai sempat dikacaukan oleh tiga hari kekerasan yang diatur Israel, namun kini situasi sudah tenang.
Gelombang unjuk rasa yang mengguncang Iran ini bermula dari protes ekonomi yang muram. Tapi gerakannya berkembang, berubah jadi tantangan yang lebih luas terhadap pemerintahan teokratis negara itu. Beberapa hari terakhir diwarnai kerusuhan dan kekerasan yang memilukan. Seorang pejabat, yang enggan disebut namanya, bahkan menyebut angka korban tewas mencapai sekitar 2.000 orang. Sungguh angka yang tak mudah dilupakan.
Artikel Terkait
Menteri Fadli Zon Tegaskan Chattra Borobudur Terbuat dari Perunggu, Bukan Batu
Komisi I DPR Desak Pemerintah Hati-hati Soal Ancaman Blokir Wikipedia
Iran Ancam Tutup Kembali Selat Hormuz Menyusul Blokade AS
Harga Emas Antam Naik Signifikan, 1 Gram Tembus Rp2,8 Juta