Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
Ada yang janggal. Coba lihat saja setiap Jumat, masjid-masjid ramai sekali. Saf-safnya rapat, suara takbir terdengar jelas. Tapi begitu keluar dari sana, realitas yang kita hadapi sungguh berbeda. Korupsi masih merajalela, kekuasaan jadi barang dagangan, dan kebohongan politik diproduksi secara massal. Ibadah seolah berhenti di ujung sajadah, tak pernah benar-benar menyeberang ke kehidupan publik kita.
Nah, dalam konteks inilah peringatan Isra Mikraj seharusnya mengguncang kita. Jangan cuma jadi acara tahunan yang itu-itu lagi, dengan spanduk dan ceramah yang sudah bisa ditebak isinya. Ini momen untuk benar-benar merenung: apa sih makna perjalanan suci Nabi itu buat Indonesia sekarang?
Isra Mikraj kan peristiwa spiritual yang luar biasa. Di situlah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat. Bukan yang lain. Shalat. Ibadah yang paling personal tapi juga paling disiplin. Lima waktu sehari, tak bisa ditawar. Seakan Tuhan mau bilang, perubahan peradaban yang besar itu dimulai dari pembentukan karakter pribadi dulu.
Masalahnya, karakter itu justru yang sedang krisis di negeri kita. Data korupsi makin menggunung. Parahnya, banyak pelakunya dikenal alim dan rajin beribadah. Lalu pertanyaannya, kalau shalat memang mencegah perbuatan keji dan mungkar, kenapa penjara masih penuh dengan orang-orang yang rajin bersorban dan memakai dasi?
Di sinilah Isra Mikraj seperti jadi kritik yang tajam. Agamanya tidak gagal. Yang gagal adalah cara kita memahaminya dan menjalankannya. Ibadah kita sering cuma jadi rutinitas mekanis, bukan latihan membangun moral. Shalat jadi formalitas belaka, kehilangan ruh transformasinya.
Menurut sejumlah saksi, ada pelajaran lain tentang kepemimpinan dari peristiwa ini. Ketika “bertemu” Tuhan, Nabi tidak meminta kekuasaan atau harta. Tidak juga minta kemenangan politik. Yang beliau dapat justru perintah untuk membenahi manusia lewat disiplin spiritual. Pesan yang terasa sangat asing di tengah hingar-bingar politik kita, di mana para elite sibuk berebut kursi dan pengaruh.
Politik di Indonesia sekarang? Seringnya cuma arena transaksi. Jabatan jadi komoditas, kebijakan jadi alat bayar utang. Rakyat cuma angka. Isra Mikraj menampar logika macam begini: pemimpin sejati itu bukan yang jago mengatur pencitraan, tapi yang berani menata akhlak dimulai dari dirinya sendiri.
Kita juga perlu ingat konteks sejarahnya. Isra Mikraj terjadi di titik terkelam hidup Nabi. Setelah ditinggal wafat Khadijah dan Abu Thalib, ditolak secara brutal di Thaif. Ini bukan detail sepele. Artinya, perjalanan spiritual tertinggi justru datang saat manusia ada di titik nadirnya.
Indonesia sekarang mungkin sedang dalam fase serupa. Hidup makin susah, PHK di mana-mana, bencana alam silih berganti. Banyak yang mulai putus asa. Dalam situasi seperti ini, Isra Mikraj membawa pesan penting: setelah keterpurukan, selalu ada peluang untuk bangkit. Asal kita tidak menyerah.
Tapi kebangkitan itu nggak jatuh dari langit, lho. Harus diupayakan. Spiritualitas bukan pelarian dari kenyataan pahit, melainkan bahan bakar untuk mengubah kenyataan itu. Iman tidak boleh berhenti di zikir di kamar, tapi harus jadi nyali untuk melawan ketidakadilan di jalanan.
Sayangnya, inilah yang sering luput dari peringatan kita. Kita sibuk dengan lomba dan konsumsi. Setelah hari itu lewat, semuanya kembali biasa. Padahal, peristiwa ini harusnya memicu pertanyaan kritis: sejauh mana nilai-nilai agama ini benar-benar memengaruhi kebijakan publik kita?
Indonesia bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler yang kering nilai. Konstitusi kita memberi ruang bagi agama jadi sumber etika publik. Persoalannya, nilai-nilai luhur itu kerap dikalahkan oleh kepentingan sesaat. Hukum tajamnya ke bawah, tumpulnya ke atas. Orang kecil gampang diciduk, sementara pelaku kejahatan kerah putih bebas berkeliaran.
Kalau shalat itu simbol hubungan vertikal dengan Tuhan, maka keadilan sosial adalah bukti hubungan horizontal dengan sesama. Percuma rajin sujud kalau kita tutup mata pada kemiskinan yang dibuat sistem. Tak ada artinya takbir kalau kita diam saja melihat ketimpangan.
Isra Mikraj juga mengajarkan persatuan. Dalam riwayat, Nabi memimpin shalat berjamaah yang diikuti para nabi sebelumnya. Itu simbol persatuan lintas zaman. Pesan yang sangat relevan sekarang, di saat negeri kita tercabik-cabik oleh politik identitas. Agama dijadikan alat kampanye, ayat dijadikan senjata, perbedaan sengaja dipelihara demi suara.
Ini berbahaya. Begitu agama dipolitisasi, yang rusak bukan cuma demokrasi, tapi iman itu sendiri. Isra Mikraj mengingatkan: agama datang untuk menyatukan, bukan memecah. Untuk membebaskan, bukan menindas.
Harus diakui dengan jujur: republik ini sedang mengalami krisis moral. Bukan krisis ideologi. Banyak orang pintar, tapi sedikit yang punya integritas. Banyak yang fasih bicara agama, tapi sedikit yang mempraktikkannya dalam keputusan-keputusan nyata.
Peringatan Isra Mikraj harusnya jadi ajakan untuk introspeksi nasional. Sudahkah shalat kita melahirkan kejujuran? Sudahkah iman kita menghasilkan keberpihakan pada yang lemah? Atau jangan-jangan, agama cuma jadi atribut dan label belaka?
Kalau setelah peringatan ini tidak ada perubahan sikap, ya Isra Mikraj tinggal jadi dongeng indah yang kehilangan tenaganya. Padahal, inti peristiwa itu adalah revolusi dari dalam: mengubah manusia secara personal, agar dunia di luarnya ikut berubah.
Mungkin ini tantangan terberat kita sekarang: mengembalikan agama pada fungsinya yang sejati. Bukan jadi hiasan politik atau identitas eksklusif, tapi sebagai sumber keberanian moral. Soalnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang langka itu orang jujur.
Dan di situlah pesan Isra Mikraj kembali terasa mendesak: mengingatkan bahwa semua perubahan besar selalu berawal dari sujud yang tulus dan jujur.
Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.
Artikel Terkait
Polres Lamandau Gagalkan Penyelundupan 35 Kg Sabu dan 15 Ribu Pil Ekstasi di Perbatasan Kalimantan
Nasib Mikel Arteta di Arsenal Bergantung pada Trofi Musim Ini
Sengketa Lahan 400 Hektare di Luwu Timur: Warga Penggarap Berhadapan dengan Sertifikat HPL Pemda
Harga Emas Antam Turun Rp40.000 per Gram, Buyback Anjloh Rp51.000