Wall Street Berakhir Campur Aduk, Investor Fokus pada Sinyal The Fed

- Rabu, 17 Desember 2025 | 06:18 WIB
Wall Street Berakhir Campur Aduk, Investor Fokus pada Sinyal The Fed

Wall Street tutup dengan catatan beragam di hari Selasa kemarin. Indeks Nasdaq berhasil menguat, tapi itu tak cukup untuk menutupi tekanan yang dirasakan S&P 500 dan Dow Jones. Sektor kesehatan dan energi jadi penyebab utama pelemahan itu.

Di sisi lain, perhatian investor sebenarnya lebih tertuju pada data ekonomi yang baru dirilis. Mereka berusaha membaca arah kebijakan The Fed tahun depan dari angka-angka yang datang terlambat itu.

Dow Jones Industrial Average akhirnya anjlok 302,30 poin, atau sekitar 0,62 persen, ke posisi 48.114,26. S&P 500 ikut melemah, turun 0,24 persen ke level 6.800,26. Berbeda nasib, Nasdaq Composite justru naik 0,23 persen, menguat 54,05 poin ke 23.111,46.

Laporan ketenagakerjaan menunjukkan penambahan 64 ribu lapangan kerja non-pertanian di November. Angka ini membaik setelah sebelumnya turun di bulan Oktober. Namun begitu, tingkat pengangguran malah naik jadi 4,6 persen. Ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan perdagangan Trump disebut-sebut jadi pemicunya.

Data lain yang dirilis hari itu juga kurang menggembirakan. Penjualan ritel di Oktober stagnan, sedikit meleset dari proyeksi kenaikan 0,1 persen yang diharapkan para ekonom. Menurut sejumlah analis, data ini mungkin saja terdistorsi. Proses pengumpulannya sempat terganggu gara-gara penutupan pemerintahan yang terjadi sebelumnya.

“Ini pada dasarnya sudah menjadi berita lama. Sebagian besar data kini dilihat dari dampaknya terhadap The Fed, dan data yang dirilis hari ini kemungkinan tidak cukup untuk mengubah arah kebijakan,”

ujar Mark Hackett, Kepala Strategi Pasar di Nationwide.

Reaksi pasar pun cukup jelas. Setelah data-data itu keluar, pelaku pasar memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya 58 basis poin tahun depan. Angka ini jauh lebih besar dari sinyal 25 basis poin yang diberikan The Fed sendiri pekan lalu.

Berita lain yang beredar, Presiden Trump rencananya akan mewawancarai Gubernur The Fed, Christopher Waller, pada Rabu ini. Wawancara ini dikabarkan untuk mengisi posisi Ketua Federal Reserve, seperti dilaporkan Wall Street Journal.

Di lantai bursa, pelemahan terasa luas. Delapan dari sebelas sektor utama di S&P 500 ditutup di zona merah. Sektor energi jadi yang terparah, ambles hampir 3 persen seiring harga minyak mentah yang terjun ke level terendah sejak 2021.

Sektor kesehatan juga terpuruk, turun 1,28 persen. Saham Pfizer merosot 3,4% setelah perusahaan memproyeksikan tahun 2026 akan jadi tahun yang sulit, didorong oleh penjualan produk COVID-19 yang melemah. Humana bahkan anjlok 6 persen menyusul pengumuman pergantian kepemimpinan yang tak dirinci.

Tapi ada juga cerita positif. Saham B. Riley melonjak luar biasa, 53,8 persen, setelah bank investasi itu melaporkan laba kuartal kedua. Comcast juga naik 5,4 persen, didorong kabar keterlibatan investor aktivis.

Secara terpisah, Nasdaq dikabarkan telah mengajukan dokumen ke SEC AS. Mereka berencana meluncurkan perdagangan saham 24 jam penuh, menyusul rencana serupa dari bursa saham New York dan Cboe Global Markets beberapa bulan lalu.

Suasana pasar secara keseluruhan memang lebih berat ke pelemahan. Di NYSE, lebih banyak saham yang turun dengan rasio 1,63 banding 1. Volume perdagangan mencapai 16,70 miliar saham agak sepi dibanding rata-rata 20 hari terakhir yang sekitar 16,99 miliar saham.

Indeks S&P 500 mencatat 14 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu, tapi juga lima rekor terendah baru. Nasdaq lebih bergejolak, dengan 86 rekor tertinggi baru dihadapkan pada 196 rekor terendah baru. Pasar jelas sedang mencari arah.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler