Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan

- Rabu, 18 Maret 2026 | 15:00 WIB
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan

Jakarta – Musim kemarau memang selalu jadi tantangan tersendiri. Apalagi bagi sektor perkebunan nasional, yang hidupnya bergantung pada cuaca. Menyikapi hal ini, Kementerian Pertanian (Kementan) kini menggencarkan sejumlah langkah mitigasi. Tujuannya jelas: menjaga produktivitas komoditas andalan seperti kopi, kakao, kelapa sawit, dan tebu agar tetap stabil meski di tengah cuaca kering yang berkepanjangan.

Menurut sejumlah saksi di lapangan, kondisi kemarau yang tak terantisipasi bisa bikin rugi besar. Untuk itu, Kementan lewat Ditjen Perkebunan berusaha memperkuat ketangguhan subsektor ini.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut pemerintah mendorong berbagai strategi adaptasi.

“Mitigasi terus diperkuat melalui budidaya adaptif, penggunaan benih unggul tahan kering, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” ujarnya.

Intinya, upaya ini dijalankan dengan beberapa cara. Mulai dari memakai varietas tanaman yang lebih tahan banting terhadap kekeringan, konservasi tanah dan air, sampai pengelolaan kebun yang lebih efisien soal penggunaan air. Pendampingan ke petani juga ditingkatkan, terutama untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit yang biasanya merajalela saat kemarau.

Di sisi lain, Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menegaskan satu hal. Kunci utamanya ada pada pengelolaan kebun yang adaptif.

“Konservasi tanah dan air serta pemanfaatan informasi iklim menjadi kunci agar perkebunan tetap produktif di tengah kemarau,” katanya.

Nah, untuk langkah yang lebih konkret, pemerintah mengembangkan demplot atau kebun percontohan. Di sini, para pekebun dilatih langsung. Mereka diajari teknik hemat air, cara mengelola kebun saat kemarau, bahkan mengolah limbah jadi pupuk organik. Penguatan tata kelola air juga tak kalah penting, termasuk di lahan gambut dengan membangun sekat kanal untuk menjaga kelembapan tanah.

Selain soal air, ada ancaman lain yang tak kalah serius: kebakaran. Program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) pun digencarkan. Kesiapsiagaan diperkuat dengan membentuk Brigade Karlabun dan Kelompok Tani Peduli Api.

Lalu, apa yang bisa dilakukan pekebun di tingkat lapangan? Imbauannya, terapkan langkah-langkah adaptif sederhana. Misalnya, pakai pupuk organik, efisiensi pemupukan, dan pantau kondisi tanaman secara rutin. Teknologi konservasi air macam rorak dan biopori juga sangat dianjurkan untuk menyimpan cadangan air di dalam tanah.

Dengan serangkaian langkah itu, harapannya perkebunan nasional tetap bisa bertahan dan bahkan berkembang meski diterpa kemarau.

“Menjaga kebun hari ini berarti menjaga ekonomi dan masa depan Indonesia. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” tegas Roni.

Seorang pekebun binaan mengaku, berbagai pendampingan tersebut sangat membantu. Terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang membuat musim kemarau terasa lebih panjang dan tak menentu.

“Bagi kami, kebun adalah masa depan. Saat kemarau datang lebih lama, kami harus lebih pintar mengatur pola tanam dan menjaga ketersediaan air. Dengan pola tanam yang adaptif dan ramah lingkungan, kami siap menjaga perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan iklim dunia,” ujarnya.

Jadi, meski tantangan cuaca makin berat, upaya mitigasi yang terpadu dari hulu ke hilir diharapkan bisa jadi tameng. Agar roda ekonomi dari kebun tetap berputar.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler