Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan perintah untuk melancarkan serangan ke wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon, seiring meningkatnya ketegangan dengan kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap serangan roket dan drone yang dilancarkan kelompok tersebut ke wilayah sipil Israel, serta dugaan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah disepakati sejak April lalu.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Senin, Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan bahwa target operasi ini adalah kawasan Dahieh, yang dikenal sebagai basis utama Hizbullah. Katz menyatakan bahwa tidak akan ada ketenangan di Beirut selama warga sipil Israel di utara masih terus menjadi sasaran serangan.
"Kawasan Dahieh di Beirut tidak berbeda dengan komunitas di Israel utara. Jika tidak ada ketenangan di utara, maka tidak akan ada ketenangan di Beirut," ujar Katz dalam pernyataan resminya.
Tidak lama setelah pengumuman tersebut, kemacetan panjang terjadi di jalan-jalan utama yang mengarah keluar dari pinggiran Beirut. Ratusan keluarga berusaha mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan membawa koper, selimut, dan barang-barang seadanya. Mereka bergabung dengan ribuan warga lain yang bergerak menuju daerah pegunungan di tengah kekhawatiran akan meluasnya kekerasan.
Di sisi lain, seorang pejabat senior pemerintah Lebanon menyatakan bahwa pihaknya mengandalkan upaya mediasi Amerika Serikat untuk menekan Israel agar menghentikan pelanggarannya sendiri dan mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil. Pada Minggu lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dikabarkan telah mengusulkan rencana deeskalasi bertahap kepada Netanyahu dan Presiden Lebanon, menurut sumber dari kalangan pejabat Amerika.
Sementara itu, militer Israel telah memerintahkan warga Dahieh untuk mengungsi demi keselamatan mereka, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai sasaran atau waktu serangan. Ini merupakan serangan kedua yang dilakukan Israel terhadap Beirut sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 16 April. Serangan terbaru sebelumnya terjadi pada Kamis lalu.
Meskipun frekuensi serangan terhadap Beirut jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, muncul laporan bahwa Gedung Putih menekan Israel untuk membatasi operasi militernya di kawasan tersebut. Langkah itu dinilai penting agar tidak mengganggu upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Iran, yang selama bertahun-tahun memberikan dukungan ideologis, militer, dan finansial yang signifikan kepada Hizbullah, menegaskan bahwa setiap kesepakatan perdamaian harus mencakup Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat secara tegas berlaku di semua front, termasuk Lebanon.
"Pelanggaran di satu front berarti pelanggaran terhadap gencatan senjata di seluruh front," ucap Araqchi.
Konflik ini bermula pada 2 Maret ketika Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel kemudian merespons dengan kampanye serangan udara di seluruh Lebanon serta invasi darat ke wilayah selatan negara itu. Ketegangan terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, meskipun serangan terhadap Beirut mulai berkurang intensitasnya.
Artikel Terkait
Sekretaris Kabinet: Efektivitas Diplomasi Diukur dari Hasil Konkret, Bukan Frekuensi Kunjungan
Kebakaran Landa Permukiman Padat di Kemayoran, 26 Mobil Damkar Dikerahkan
Presiden Prabowo Tanggung Pribadi Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas ke Luar Negeri
Taspen Mulai Cairkan Gaji ke-13 Pensiunan pada 2 Juni 2026